Kenikmatan Hantu Saijo Sara Tokyo Hot n1106-Gadis17

Kenikmatan Hantu Saijo Sara Tokyo Hot n1106-Gadis17. “Loh Tan, udah pulang ?, kirain siapa“ kataku sambil tersenyum kepadanya, namun tidak ada balasan
senyuman yang kudapat darinya, ia hanya melihatku dengan pandangan biasa saja,
kemudian dari mulutnya keluar kata-kata“Fan, kita pulang sekarang, kamu siap siap,sekarang juga kita pulang”., Cerita Dewasa,Aku terdiam sambil
memandangnya, ada pertanyaan yang akan aku tanyakan kepadanya, namun sulit
sekali aku mengucapkannya, karena kulihat wajah Tante Nadia sepertinya tanpa
ekspresi dan tampaknya ingin aku menurutinya tanpa banyak bertanya.  Aku bergegas merapikan
bajuku, membereskan dandananku, tanpa banyak cakap, memeriksa seisi kamar
takut-takut ada yang tertinggal atau terlewatkan. Setelah memastikan semua
beres, aku membantu membawa tas kecil Tante Nadia, mengatakan padanya bahwa
semuanya telah siap, dan berjalan mengikutinya keluar., Kuperhatikan Tante Nadia,
wanita cantik yang kukagumi, tampak bergegas melangkah. dengan dandanan baju
hitamnya yang seksi, dengan baju terusan yang berbelahan rendah, aku hanya
meliriknya sekilas sambil menelan ludah. Sambil melangkahkan kakiku, menuju
areal pelataran parkir, banyak pertanyaan menghiasi otakku.,Didalam mobil yang
kukendarai, beliau juga tidak banyak cakap, hanya sesekali bergumam, memastikan
apakah mobil dalam keadaan laik jalan, sudah cek air, oli atau bensin cukup
untuk digunakan sampai tujuan, dan aku hanya menjawabnya juga ala kadarnya. Ada
apa dengan Tante Nadia, ia terlihat tidak seperti biasanya, tidak ceria dan
banyak tersenyum seperti Tante Nadia yang kukenal selama ini. Apakah sebenarnya
yang terjadi ? apakah beliau saat ini sedang berada dalam posisi yang tidak
mengenakkannya ? apa yang telah terjadi saat aku mandi ? ataukah apa yang
terjadi saat Tante Nadia dan Om Andre dalam perjalanan pulang dari kantor Om Andre
? Apakah Tante Sandra melabrak Om Andre kemudian berimbas kepada Tante Nadia ?
Apakah Tante Nadia mengetahui bahwa kami, aku dan Tante Sandra telah
memergokinya berselingkuh dengan Om Andre ? Lalu mengapa Tante Sandra tidak
ikut kembali dengan kami ? ada apa dengannya ? masih banyak
pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu dipikiranku, namun tak ada keberanian
dari diriku untuk bertanya kepadanya., Cerita Bokep

Kulirik jam
ditanganku, jam setengah delapan kurang, kalau perjalanan dari sini menuju
kerumah sekitar 3,5 jam berarti kami akan tiba di rumah sekitar setengah
sebelas, sedangkan perutku belum diisi sejak siang tadi, duh.. bisa-bisa cacing
didalam perutku ngamuk, karena belum mendapat upeti. Tante Nadia seperti
mengerti akan pikiranku, beliau melihat aku melirik jam dan akhirnya mengajakku
untuk nanti mampir di salah satu rumah makan bila kami melewatinya., Sejam perjalanan yang
kami lewati dengan keheningan, diNadiam ini lalu lintas cukup ramai, mungkin
karena bertepatan dengan weekend, sehingga banyak lalu lalang kendaraan dijalan
yang kami lalui. Jarak dari tempat kami tadi memang cukup jauh, melewati
perkebunan, sawah dan beberapa kota kecil, akhirnya ketika kami melewati sebuah
kota yang cukup ramai, kami memutuskan untuk mencari rumah makan yang dirasa
menurut kami cukup enak, aman dan nyaman.,Akhirya kami
memutuskan untuk berhenti disebuah restoran yang kelihatan cukup mewah, karena
menurut Tante Nadia, tempat itu adalah tempat biasa ia makan, bila melewati
kota ini. Memang kulihat tempat itu cukup bagus, banyak mobil-mobil mewah
terparkir disana, dan kulihat disebelahnya juga terdapat hotel yang cukup
bagus, mungkin kelas melati, namun cukup asri dan mewah untuk sekelas
penginapan di kota kecil seperti ini., Kami makan di restoran
itu tanpa banyak berbicara, sampai saat ini aku tidak berani untuk menanyakan
apa yang terjadi terhadapnya, aku hanya dapat mengira-ngira saja. Ada sedikit
sesal dihatiku, mengapa Tante Nadia berselingkuh dengan Om Andre, aku sangat
menyayangkannya, aku selalu memperhatikan gerak-geriknya yang salah tingkah,
beliau sepertinya saat ini agak sungkan kepadaku. Didalam hatiku ada
kecurigaan, sepertinya Tante Nadia mengetahui bahwa aku memergokinya saat tadi
Aku dan Tante Sandra berkunjung ke Kantor Om Andre, mungkin Tante Sandra marah
besar terhadap keduanya, sehingga Tante Nadia berusaha menghindari keduanya
dengan mengajakku pulang cepat. Aku tersenyum getir, untungnya Tante Sandra
telah memuaskanku, memuaskan birahiku, sehingga setidaknya Om Andre telah
membayar apa yang telah dilakukannya terhadap Tanteku telah dibayar oleh
istrinya.,Dasar aku memang sial,
jarang pergi sama cewek cakep, sekalinya pergi dengan wanita cantik sexy
didepanku ini Nadiah membuat aku grogi. Restoran yang kami datangi ini adalah
restoran continental dengan berbagai macam menu masakan luar negeri. Kulihat
sekeliling sepertinya eksekutif-eksekutif yang berpakaian necis,gelorabirahi.com ganteng,
dengan jas, dasi, sepatu mengkilap sedang makan Nadiam disini, belum lagi
kulihat, beberapa meja dipenuhi dengan keluarga-keluarga kaya yang turut
bersantap., Sepertinya cuma aku
aja yang berani tampil beda, berani malu beda dari yang lainnya, cuma kemeja
lengan pendek, dengan celana jeans belel, belum lagi muka yang lecek beminyak,
yang membuat orang yakin, percaya dan berani taruhan gede2an kalo aku berpenghasilan
gak lebih dari UMR. Sialan. Dan yang membuatku grogi adalah sepertinya semua
mata memandang kami, Tante Nadia yang berpenampilan cantik, sexy dengan
berbelahan dada rendah, membuat mata mereka sepertinya sebentar-sebentar
kembali melirik kami, jelas ini membuat aku semakin kikuk, jangan-jangan
membuat mereka berpikir kalo aku ini adalah pembantunya, kuyaaaa., Melihat menu restoran
semakin membuat aku puyeng, makanan dengan bahasa yang tidak banyak kumengerti
semakin membuat aku bingung dalam memilih. Masa aku mau memilih gado-gado atawa
karedok ? ada sih emang, tapi bukannya itu nanti Nadiah membuat mereka berpikir
kalo aku biasa makan di emperor resto ? emperan trotoar !. gak la yau .Akhirnya setelah
da..de.. do… aku dengan tegas menunjuk menu makanan jepang shashimi, dengan
harapan itu adalah makanan lezat khas jepang seperti di restorant cepat saji
yang biasa aku lihat dibrosur2 yang disodori oleh SPG cantik di depan
mall-mall, yang biasanya aku comot walaupun mereka tidak menyodorkan ke aku,
(mungkin mereka menilai dari penampilanku yang dalam pikiran mereka aku gak
bakal mampir, gak kuat bayar, padahal sih iya, lah wong aku Cuma ngarep di
brosur itu mereka naruh nama dan no telp yang bisa aku kerjain, kali aja
nyangkut… heheheh… !) .,Ada rasa kaget
bercampur haru, kaget dan terperanjat ketika ternyata yang aku pesan adalah
makanan ikan mentah diiris-iris dengan dimasukkan ke bumbu cair yang bau dan
rasanya seperti air cuka tumpah dicomberan, dan terharu buat orang yang melihat
aku salah mesen…. hiks. Terpaksa deh itu makanan aku makan juga, walau
diselingi oleh coca-cola. Sehingga nanti kalo orang tanya bagaimana rasa
shasimi aku akan cepat menjawabnya dengan jawaban “ikan mentah rasa coca cola”
Hiks.., Kurang dari sejam kami
selesai makan, tante Nadia memberi isyarat padaku agar segera pergi untuk
melanjutkan perjalanan setelah selesai membayar. Aku mengikutinya melangkah,
namun aku agak kaget kupikir beliau akan menuju mobil untuk kami segera
melanjutkan perjalanan menuju pulang, namun beliau Nadiah melangkah kedalam
gedung hotel disebelah, beliau memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya. Aku
hanya memandangnya dan tanpa banyak bertanya aku bergerak mengikutinya., “Fan, Tante agak
pening nih, mungkin lebih baik kita menginap disini, besok aja kita melanjutkan
perjalanan, kalo dipaksakan tante bisa sakit nih”, katanya kepadaku seolah
ingin meyakinkanku. Aku hanya mengiyakannya, dan seakan bahwa ini tidak masalah
buatku., Setelah cek in
dilobby, aku mengikutinya masuk kamar, jam menunjukkan kurang dari pukul 9 Nadiam.
Entah karena aku juga capek, letih atau apa, menyimpan tas yang kuambil tadi
sebelum dimobil kami masuk, melemparkannya dan merebahkan diriku di ranjang,
duh, pegel bener. Mengingat kejadian hari ini memang cukup membuatku letih, ada
tambahan tenaga setelah makan tadi, namun aktivitas hari ini cukup membuatku
menguras tenaga, kulihat tante Nadia, merebahkan dirinya di bangku yang
tersedia dalam kamar, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata., Beberapa saat kami
terdiam, aku melangkah bangun menyalakan televisi yang berada didalam kamar,
menggunakan remote yang tersedia untuk mencari siaran yang kurasa enak ditonton
dan kembali bermaksud merebahkan diri kembali di ranjang, namun langkahku
terhenti, kulirik Tante Nadia, dan berkata “Tan, Tante sakit ? tiduran aja dulu
di ranjang, istirahat “ kataku, sambil melangkah mendekatinya. Tante Nadia
membuka matanya sambil tetap memegangi keningnya, “Iya deh Fan, tante Nadia
istirahat dulu” katanya sambil bangun dan beranjak mendekati sisi tempat tidur.,Aku melihatnya,
kami berganti posisi, kulihat beliau membaringkan tubuhnya di ranjang,
menggunakan bantal dikepalanya dan berusaha memejamkan mata, aku hanya terdiam
melihatnya, entah apa yang harus kulakukan, namun sepertinya aku dapat menduga
apa yang terjadi padanya, mengalihkan pandangan darinya dan berusaha fokus pada
televisi yang aku tonton., Beberapa lama kami
terdiam seperti ini, aku seperti membayangkan kejadian tadi siang, persis
seperti yang dialami tante Sandra. Membuat perutku seperti mendesir, mengingat
kejadian tadi siang dimana aku dan Tante Sandra melakukan persetubuhan, kembali
aku melirik Tante Nadia, membayangkannya bersetubuh denganku, dan ini membuat
dedeku semakin tegang.,Berusaha menepiskan segala
pikiran dari benakku, kembali memusatkan pikiran ke arah televisi, kulihat
tante Nadia, bangun dari ranjang, dan memandangku sambil berkata, “Fan, tante
mo mandi dulu ah, mungkin nanti bisa lebih segar”, katanya. Aku memandangnya
dan menganggukkan kepala seolah tak peduli namun seakan memberi persetujuan,
namun aku tetap memandang televisi di kamar itu., Kulihat beliau
mengambil sesuatu dari tasnya, mengeluarkan beberapa barang, menaruhnya dekat
kaca yang berada disisinya dan kemudian kulihat beliau melangkah ke arah pintu
kamar mandi, sambil membawa sesuatu seperti pakaian, memasuki kamar mandi, dan
menutup pintunya. Duh, padahal aku mengharapkan kalo beliau mandi dengan pintu
terbuka seperti Tante Sandra., Beberapa lama aku
menunggunya mandi, sambil menonton televisi. Beliau keluar kamar mandi dengan
muka tampak segar melangkah keluar, mengenakan penutup pakaian seperti kimono,
warna putih, dan yang mebuatku deg-degan adalah, beliau mengenakan baju
tersebut seperti tidak dikancing atau diikat pinggangnya dan jelas membuat
payudaranya seperti hendak mencuat keluar., Berjalan melangkah ke arah meja berkaca disebelah ranjang
tempat tidur, mematut-matutkan diri sejenak. Kulihat beliau seperti mengambil
sesuatu dari pinggiran meja tersebut, seperti strip obat, mengambil beberapa
kemudian memasukkan ke dalam mulutnya dan meneguknya dengan air yang telah
tersedia disisi lain meja itu. Aku memperhatikan dan Kemudian seperti tidak
perduli ada diriku didekatnya, tanpa kuduga sama sekali, beliau memelorotkan
baju putih tersebut, membelakangi diriku. Namun hal itu Nadiah membuatku
terbengong-bengong. Memang aku sering melihat dan memperhatikan Tante Nadia
dalam keadaan polos tanpa busana, namun biasanya hal itu tanpa beliau sadar
bahwa aku ada didekatnya dan atau bila aku mengintipnya, tapi kalau ini jelas
beliau tahu aku ada disitu dan jelas-jelas melihatnya dari pantulan kaca
didepannya.,

Entah, jelas hal ini membuat aku terkesima, memandangnya
terus seperti itu mungkin akan membuat aku gelap mata, berpikiran seolah-olah
tante Nadia memancing aku, merayu aku untuk menyetubuhinya, aku berusaha
memalingkan pandanganku darinya, berusaha menepis bayang-bayang kotor yang kian
menguasai pikiranku.

Rambutnya yang agak ikal panjang, disisir kebelakang,
kemudian dengan menggunakan cairan yang ada didekatnya, mengusapnya ketelapak
tangan, membasuhnya di rambut kepalanya, selanjutnya menyisir kembali
kebelakang, sesekali kedua tangannya diangkat kearah kepala, memegang kedua
rambutnya, dan hal ini jelas membuat kedua payudaranya seperti ditonjolkan
keluar, seakan menyuruh aku untuk melihat, memegang dan meminta aku untuk
memuji-mujinya betapa indahnya kedua bukit kembar tersebut.Sering aku berpikiran, bahwa selama ini aku selalu
dikelililngi oleh wanita wanita cantik dengan badan yang begitu indah, montok,
putih, mulus dan tentu saja di anugrahi 2 buah bukit kembar yang juga montok,
besar dan dengan bentuknya yang menggiurkan, entahlah kadang aku heran apakah
dengan aku yang jelek, pendek, dengan tubuh yang pas-pasan ini selalu mendapat
godaan yang rasanya sulit aku hindari.