Maki Hojo Sky Angel Biru SKYHD-093-Gadis17

Maki Hojo Sky Angel Biru SKYHD-093-Gadis17.Jadi seorang pengusaha dengan segala kesibukan membuatku kadang merasa suntuk dengan segala urusn yang gak kelar-kelar. Maka sering aku menyisihkan waktu untuk nongkrong di sebuah cafe untuk sekedar merefresh otak yang sudah penuh sambil menikmati lagu-lagu yang dimainkan dalam cafe tersebut. Cafe itu terasa nyaman dengan suasana yang remang-remang. Kadang aku juga mengajak klient usahaku untuk sekedar membicarakan urusan kerja di café itu. Pelayanan yang ramah membuat café disitu sangat ramai, dan semua orang pasti berpikiran yang sama kalau café itu tempat yang nyaman. Banyak juga muda-mudi yang berada dicafe itu. Malam itu waktu aku sedang duduk dicafe aku melihat satu sosok yang berbeda, yaitu si penyanyi. Malam itu si penyanyi berbeda dengan yang biasanya, kali ini penyanyinya kelihatan lebih muda dan kelihatan sangat cantik. Umurnya sekitar 26 tahunan, tubuhnya sangat indah dengan gaun yang menghiasinya saat bernyanyi. sontak aku tertarik pada wanita itu, kemudian aku memanggil salah satu pelayan dan aku menuliskan satu request lagu aku sertai dengan uang seratus ribu. aku suruh sampaikan kepada wanita itu. Setelah pelayan itu sampai dipanggung, aku melihatnya menuding kearahku, aku berpikir pasti pelayan itu memberi tahu kalau aku yang request lagu tersebut. Kemudian wanita cantik itu melihatku dan tersenyum, aku pun membalasnya dengan tersenyum dan melambaikan tanganku.Tak lama langsung requestku dinyanyikan oleh wanita cantik itu, suaranya sungguh sangat merdu. Suara dan penampilannya sangat cocok dengan suasana malam itu. Kupandangi terus wajah wanita itu, sesekali penyanyi itu juga melihatku dan tersenyum kepadaku, sungguh manis senyumnya. Setelah kurang lebih 10 menit setelah selesai bernyanyi , penyanyi itu mendatangiku, dia mengucapkan terimakasih sambil menjulurkan tangannya seraya mengajakku berkenalan. namanya Dian, aku langsung berdiri dan menyambut tangannya dengan menyebutkan namaku .  Kemudian aku mempersilahkannya untuk duduk dimejaku. lantas kami ngobrol banyak.

Setelah kami mengobrol panjang lebar akhirnya aku berjanji akan mengantar Dian pulang. Aku melanjutkan sebentar percakapan dengan client dan kemudian mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Setelah clientku pulang aku kembali ke cafe. Waktu masih menunjukkan pukul 23.30. Masih 30 menit lagi. Aku kembali duduk dan memesan hot tea. 30 menit aku habiskan dengan memandang Dian bernyanyi. Mataku terus menatap matanya sambil sesekali aku tersenyum. Kulihat Dian dengan percaya diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik hatiku  hingga meningkatkan hasratku untuk mencumbunya.

 Dalam perjalanan mengantarkan Dian pulang, aku sengaja menyalakan AC mobil cukup besar sehingga suhu dalam mobil dingin sekali. Dian tampak menggigil.

“Jon, AC-nya dikecilin yah?” tangan Dian meraih tombol AC untuk menaikkan suhu. Tanganku segera menahan tangannya. Kesempatan untuk memegang tangannya.
“Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini aku baru bisa tenang . Kalau kamu naikkan, aku tidak tahan..” alasanku.
Aku memang ingin membuat Dian kedinginan. Kulihat Dian bisa mengerti. Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kuusap perlahan. ia diam saja.
“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimulus ringan. Dian tersenyum. Dia tidak menolak.
“Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, kamu suka jazz juga ya?”
“Hampir semua musik aku suka. Oh ya, baru kali ini aku melihat penyanyi jazz wanita yang bisa bermain Piano. Mainmu asyik lagi.”
“Haha.. Ini malam pertama aku main Piano sambil menyanyi.”
“Oh ya? Tapi tidak terlihat canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu banyak memakai scale altered dominant ya?” aku kemudian memainkan tangan kiriku di tangannya seolah-olah aku bermain piano.
“What ! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu bisa main piano yah?” Dian tampak terkejut. Mukanya terlihat penasaran.
“Yah, dulu banget pernah belajar. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan rumah dian.
“Tinggal dengan siapa?” tanyaku ketika kami masuk ke rumahnya. Ya, aku menerima ajakannya untuk masuk sebentar walaupun ini sudah hampir jam 1 pagi.
“Aku kontrak rumah ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum pulang semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”
 Dian masuk kamarnya untuk mengganti baju. Aku tidak mendengar suara pintu kamar dikunci. Wah, kebetulan. Atau Dian memang memancingku? Aku segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Benar! Dian berdiri hanya dengan bra dan celana dalam. Di tangannya ada sebuah kaos. Kukira Dian akan berteriak terkejut atau marah. Ternyata tidak. Dengan santai dia tersenyum.
“Maaf.. Aku mau tanya kamar mandi dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru aku yang gugup melihat pemandangan indah di depanku.
“Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk aja.”
 Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya aku melihat ada sebuah keyboard. Aku tidak jadi ke kamar mandi malah memainkan keyboardnya. Aku memainkan lagu “Body and Soul” sambil menyanyi lembut. Suaraku biasa saja juga permainanku. Tapi aku yakin Dian akan tertarik. Beberapa kali aku membuat kesalahan yang kusengaja. Aku ingin melihat reaksi Dian.
“Salah tuh mainnya.” komentar nya. Dia ikut bernyanyi.
“Ajarin dong..” kataku.
Dengan segera Dian mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Dian berdiri membelakangiku. Dengan posisi seperti memelukku dari belakang, dia menunjukkan sekilas notasi yang benar. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Dian saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.
“Katanya mau ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.
“Oh ya..” aku berdiri.
Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!
“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Dian terkejut. Aku tertawa saja.
 Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau mau marah ya aku terima saja. Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya. Ternyata Dian malah tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya.
 Dian membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Dian juga membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama tinggal hanya memakai celana dalam. Sambil terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku bisa meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.
“Agh..” kudengar rintihan nya. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan aku merasakan penisku ereksi.
“Egh..” aku menahan nafas ketika kurasakan tangan Dian menggenggam batang penisku dan meremasnya.
 Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku makin terangsang. Tubuh Dian kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak bisa berbaring. Sewaktu Dian duduk, aku hanya bisa merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak bisa kuraih. Ia tidak mau duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi puting dadaku.

Ternyata enak juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Dian cukup aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan juga melepas celana dalam Dian. Kami bercumbu kembali. Lidahku menekan lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap.

Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian membuat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin membuat kami saling merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berbeda bercinta ketika dalam keadaan basah. Waktu bercumbu, ada rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya dari biasanya.

 Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh, membuat tubuh kami makin panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, sementara bibirku melumat makin ganas bibir Dian. Sesekali ia menggigit bibirku. Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat ringan pinggang, punggung dan bahu nya. Dari bahasa tubuhnya, ia sangat menikmati pijatanku.
“Ogh.. Its nice,.. Och..” Dian mengerang.

Lidahku mulai menjilati telinganya. Dian  menggelinjang geli. Tangannya ikut meremas pantatku. Aku merasakan payudara nya makin tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi. Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

“Payudaramu seksi sekali,.. Ingin kumakan rasanya..” candaku sambil tertawa ringan. Dian memainkan bola matanya dengan genit.
“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.
“Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya persis di ujung putingnya.
“Ergh..” desah Dian. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.
 Mulai dari ujung lidah sampai akhirnya dengan seluruh lidahku, aku menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak kuat dan akhirnya kuat. Tak lama kemudian Dian kemudian membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.
“Ough…., Jon” Dian mengerang

Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Dian dengan terampil mengikuti tempo kocokanku. Kami bekerja sama dengan harmonis saling memberi dan mendapatkan kenikmatan. Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan perawan, kecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

“Agh.. Agh..” Dian mengerang keras. Lama kelamaan suaranya makin keras.
“Come on, Jon.. Fuck me..” ceracaunya.
 Rupanya Dian adalah tipe wanita yang bersuara keras ketika bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku makin cepat. Beberapa saat kemudian aku berhenti. Mengatur nafas dan mengubah posisi kami. Dian menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Dian sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, kemudian memasukkan jariku.
“Hey.. Perih tau!” teriak Dian. Aku tertawa.
“Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya tetapi tetap bermain-main di sekitar anusnya hingga membuatnya geli.
Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.
“Aku mau nyampe,..”
“Keluarin di dalam aja. Udah lama aku tidak merasakan semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.
“Aman, Jon. Aku ada obat anti hamil kok..” Dian meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi dengan gencar. Dian berteriak makin keras.
“Yes.. Aku juga hampir sampe, Jon.. come on.. come on.. oh yeah..”
Saat-saat itu makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..
“Aku orgasme. Sesaat kemudian kurasakan tubuh Dian makin bergetar hebat. Aku berusaha keras menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.
“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Dian menyusulku orgasme.
 Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku. Kami kemudian bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan kemudian perutnya. Aku membuatnya kegelian ketika hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia. Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya. Dian tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.
“Thanks Jon.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”

Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku hanya berusaha melayani setiap wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya. Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang wanita muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.

“Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Dian. Tadi malah sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Dian tertawa.
“Kenalin, dia Putri. Mbak.. Dia Jon.” aku menganggukkan kepalaku padanya.
“Hi Put..” sapaku.

Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terayun aku mencari kaos dan celana pendek Dian dan memakainya. Putri keuar Kembali   ke kamarnya. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah
jam 3 pagi. Aku harus pulang.