Mizuki Risa cwp-136 Majalah Fashion Original Model Eksklusif-gadis17

Mizuki Risa cwp-136 Majalah Fashion Original Model Eksklusif-gadis17 . Suatu siang aku sedang makan di kantin kampus bersama Nana. Kami ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu jam kuliah berikutnya, saat itu jam 12.00 jadi kantin sedang- penuh-penuhnya. Waktu sedang asyik dalam canda tawa, tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang dan orang itu langsung duduk di sebelah kiriku.“Helo girls, gabung yah, penuh nih !” sapa orang itu yang ternyata si Samid, salah satu playboy kampusku yang beberapa waktu lalu terlibat affair denganku. “Penuh apa alasan buat bisa deketin kita, heh ?” goda Nana padanya.

“Iya nih, dasar, itu tuh disana aja kan ada yang kosong, hus…hus..!!” kataku dengan nada bercanda

“Maunya sih…cuma kalo gue disana takutnya ada yang merhatiin gue, jadi mendingan gue deketin sekalian” kelakarnya dengan gaya khas seorang playboy.

“Gila ga tau malu amat, pede abis lo !” sambil kucubit lengannya

Kami bertiga menikmati makan dan obrolan kami semakin seru dengan datangnya pemuda ini. Harus kuakui Samid memang pandai berkomunikasi dengan wanita dan menarik perhatian mereka. Dalam empat sekawan geng-ku saja dia sudah pernah menikmati petualangan sex dengan tiga diantaranya (termasuk aku), tinggal si Nuri yang belum dia rasakan.

“Kuliah jam berapa lagi nih kalian ?” tanyanya

“Gue sih masih lama, jam tiga nanti, pulang tanggung” jawabku

“Kalo gue sih sebentar lagi jam satu masuk, BT deh kuliahnya Bu Marwah yang killer itu” jawab Nana sambil mengelap mulutnya dengan tisu.

“Halo Ci….hai Nana  !” sapa Nuri yang tiba-tiba nongol dari keramaian orang lalu duduk di sebelah Nana.

Hari itu Nuri tampil dengan penampilan barunya yaitu rambutnya yang panjang itu dicat coklat sehingga nampak seperti cewek indo. Dia terlihat begitu menawan dengan baju pink yang bahunya terbuka dipadu celana panjang putih.

Kuperkenalkan Samid pada Nuri, berbeda dengan kami bertiga yang dari fakultas yang sama, Sastra Inggris, Nuri berasal dari Fakultas Ekonomi sehingga dia belum mengenal Samid. Begitu kenal dengan Nuri, Samid langsung beraksi dengan kata-kata dan pujian gombalnya. Dengan sifat Nuri yang gaul itu mereka cepat akrab dan omongannya nyambung.

“Dasar kampret darat” begitu gumamku dalam hati sambil menyedot minumanku.

Tak lama kemudian HP Nana berdering lalu dia pamitan karena ada janji mau mengerjakan tugas kelompok dengan temannya di perpustakaan. Jadi sekarang tinggallah kami bertiga.

“Ngapain yah enaknya sambil nunggu, bosen kan disini terus ?” kata Nuri setelah menghabiskan kentang goreng dan minumnya. Ternyata dia sedang menunggu kuliah jam tiga juga.

“Ke kost gue gimana ? gue sih dah beres ga ada apa-apa lagi” usul Samid

Kami pun mengiyakan daripada menunggu dua jam lebih di kampus, di kostnya kan banyak film jadi bisa nonton dulu. Kami pun berjalan ke gerbang samping yang menuju ke kostnya setelah membayar makan.

Hanya dalam lima menit kami sudah tiba di tujuan. Kostnya cukup besar dan bagus karena termasuk kost yang mahal di daerah sini, terdiri dari dua tingkat dengan kamar mandi dalam di kamar masing-masing. Penghuninya campur pria-wanita, tapi menurut Samid lebih dari setengahnya wanita, makannya dia betah di sini.

“Welcome to my paradise, sori yah rada berantakan” dia membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk ke kamarnya di tingkat dua.

Ini bukan pertama kalinya aku ke sini, aku bahkan pernah ML disini saat one night stand dengannya. Pada temboknya terpampang beberapa poster pemain sepak bola, juga ada sebuah poster anime Kenshin. Foto pacarnya yang kuliah di luar negri dipajang diatas meja belajarnya yang sedikit acak-acakan. Kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati snack hingga akhirnya obrolan kami mulai menjurus ke masalah seks. Samid tanpa basa-basi menawarkan nonton film bokep koleksinya, dipilihnya salah satu vcd bokep Jepang favoritnya. Aku tidak ingat judulnya, yang pasti adegannya membuatku merinding. Kami bertiga hening menatapi layar komputer seakan terhanyut dalam adegan yang pemerkosaan masal seorang wanita oleh beberapa pria, sperma pria-pria itu berhamburan membasahi si wanita.

Darahku serasa memanas dan selangkanganku mulai basah. Nuri di sebelahku juga mulai gelisah, dia terlihat menggesek-gesekkan kedua pahanya. Dan, si Samid….oh dia meremas-remas tangan Nuri, dia juga mulai berani mengelus lengannya. Melihat reaksi Nuri yang malu-malu mau dan sudah terangsang berat, Samid makin berani mendekatkan mulutnya ke pundak Nuri yang terbuka. Nuri menggelinjang kecil merasakan hembusan nafas Samid pada leher dan pundaknya. Karena sudah merasa horny, ditambah lagi Samid dan Nuri mulai beraksi, akupun tidak malu-malu lagi mengekspresikan nafsuku pada Nuri yang duduk paling dekat denganku. Tanganku merayap lewat bagian bawah bajunya dan terus menyelinap ke balik bra-nya. Aku dapat merasakan putingnya makin mengeras ketika kumain-mainkan dengan jariku. Mulutku saling berpagutan dengannya, lidah kami saling beradu dan bertukar ludah. Sementara di sebelah sana, Samid mulai menjilati leher dan pundaknya, disibakkannya rambut panjang itu lalu dihirupnya wangi tubuhnya sebelum cupangannya berlanjut ke leher dan belakang telinganya.

Nuri mendesah tertahan menikmati perlakuan ini, tangannya mulai bergerak meraih penis Samid yang masih tertutup celana jeansnya, diraba-rabanya benda yang sudah mengeras itu dari luar. Ciuman Samid menurun lagi ke bahu Nuri sambil menurunkan pakaian dengan bahu terbuka itu secara perlahan-lahan, suatu cara profesional dan erotis dalam menelanjangi seorang wanita. Aku juga ikut menurunkan pakaian Nuri dari sebelah kiri sehingga pakaian itu sekarang menggantung di perutnya. Dengan cekatan Samid menurunkan cup BH kanannya dan langsung melumatnya dengan rakus. Nuri melenguh merasakan payudaranya dihisap kuat oleh Samid. Aku sekarang melepaskan pakaianku sendiri hingga bugil lalu mendekati Samid yang sudah merebahkan tubuh Nuri di ranjangnya. Kupeluk pinggangnya dari belakang dan melepaskan sabuknya disusul resleting celananya. Samid berhenti sejenak untuk membiarkanku melucuti dirinya, disaat yang sama Nuri juga melepasi pakaiannya. Kini kami bertiga sudah telanjang bulat. Kami menyuruh Samid rebahan di ranjang agar bisa menservis penisnya. Penis yang sudah mengeras kukocok dan kujilati, lalu kumasukkan ke mulutku.

Bersama dengan Nuri, kami bergantian melayani ‘adik’ Samid dengan jilatan dan emutan. Nuri melakukan aktivitasnya dengan terngkurap diatas tubuh Samid dengan kata lain mereka dalam posisi 69, jadi Samid bisa menikmati vagina Nuri sementara kami berdua menikmati penisnya. Samid sangat menikmati vagina Nuri, hal ini nampak dari cara dia menjilat dan menyedot liang itu, terkadang suara hisapannya terdengar jelas sehingga membuat Nuri mengerang pendek. Beberapa menit kemudian Nuri mengerang lebih panjang dan suara seruput Samid terdengar lebih jelas, ternyata Nuri sudah mencapai orgasme pertama. Samid mengganti posisi, Nuri disuruh telungkup di ranjang dan pantatnya diangkat menungging, Samid sendiri mengambil posisi di belakangnya dan mengarahkan senjatanya ke vagina Nuri. Nuri merintih sambil meremas sprei menikmati penis Samid melesak masuk membelah bibir bawahnya. Ketika penis itu masuk sebagian, Samid menghentakkan pinggulnya dengan bertenaga sehingga penisnya amblas seluruhnya dalam vagina Nuri. Tubuhnya tersentak pelan dengan mata membelakak diikuti dengan erangan nikmatnya.

Samid memompa Nuri dengan gerakan-gerakan yang mantap dan erotis sehingga Nuri tidak sanggup berkata apa-apa selain mengap-mengap keenakan. Kedua tangannya menjelajahi payudara Nuri yang berukuran sedang tapi padat, kedua putingnya dipencet-pencet atau dipelintir. Aku sendiri yang tidak tahan hanya menonton mengambil posisi berselonjor di depan Nuri, kedua pahaku kubuka lebar dan kudekatkan ke wajah Nuri.

“Nur…jilatin punya gue yah…ga tahan nih !”

Nuri mulai menjilati paha dan vaginaku, lidahnya menari-nari menggelikitik klitorisku yang sudah menegang sementara tangannya meraih payudaraku dan mencubit-cubit putingku. Lidah Nuri memberi rangsangan tak terkira pada kemaluanku sehingga aku tidak tahan untuk tak mendesah. Desahan kami bertiga pun terdengar memenuhi kamar ini. Kami berganti posisi menjadi woman on top, Nuri bergoyang di atas penis Samid dan aku naik ke wajah Samid berhadapan dengan Nuri, kini vaginaku dilayani oleh Samid dengan lidahnya.

Sambil terus bergoyang aku berciuman dengan Nuri, aku kembali menikmati lidah sesama jenisku, kami berciuman sambil mengeluarkan desahan-desahan tertahan. Ciuman Nuri terus turun ke leherku hingga berhenti di payudara kananku, sebuah gigitan kecil disertai hisapan pada daerah itu membuatku menggeliat, disusul tangan Samid menjulur dari bawah mencaplok yang kiri. Ooohh…sepertinya bagian sensitifku diserang semua, lidah Samid yang dikeraskan itu melesak masuk lebih dalam dan bergoyang menggelikitik dinding kemaluanku, tangannya yang satu meremas dan sesekali menepuk pantatku yang sekal. Aku semakin erat mendekap Nuri sambil satu tanganku meremas payudaranya. Tak lama kemudian aku merasa sesuatu yang mendesak keluar dari bawah sana, ahh…aku tak sanggup lagi menahan cairan cinta yang mulai membasahi vaginaku. Hal yang sama juga dialami Nuri tak lama kemudian, dia melepas emutannya pada putingku, nafasnya makin memburu dan dia menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih cepat.

Tubuh kami berdua mengejang hebat dan erangan klimaks keluar dari mulut kami. Samid menusuk-nusukkan jarinya ke vaginaku membuat cairan itu makin meleleh dan tubuhku makin tak terkendali, aku mendesah panjang tanpa mempedulikan rasa sakit dari kuku Nuri yang mencakar lenganku. Cairanku diseruput Samid dengan rakusnya, vagina Nuri juga mengeluarkan banyak cairan sehingga menimbulkan bunyi kecipak air. Goyangan kami mulai mereda, kami berpelukan menikmati sisa-sisa orgasme barusan, kami menghimpun nafas kami yang kacau balau, keringat seperti embun membasahi dahi dan tubuh kami. Akhirnya kujatuhkan diriku ke samping dan Nuri jatuh di dekapan Samid. Samid menoleh ke samping bertatapan muka denganku lalu mengembangkan senyum, nampak mulutnya masih basah oleh cairan cintaku. Hebat juga dia, bisa membuat dua wanita klimaks dalam waktu hampir bersamaan, gairahsex.com begitu pujiku dalam hati.

“Gimana girls, ready for next round ? gue belum keluar nih” katanya sambil mengelus rambut panjang Nuri.

“Hhhh…lu duaan aja dulu deh, gue kumpul tenaga dulu. Heh sialan lu Nur, pakai cakar-cakaran segala sakit tau, nih !” omelku memperlihatkan bekas cakaran di lengan kiriku yang sedikit berdarah sambil mencubit lengannya.

“Hihihi…sory dong Ci, tadi kan kita lagi lupa daratan lagi, yang penting kan enjoy juga” jawabnya santai sambil tersenyum kecil.

Sebentar kemudian Samid sudah membalikkan tubuh Nuri menjadi telentang dibawahnya, lalu kembali penisnya dimasukkan ke vagina Nuri diiringi desahannya. Ranjang ini sudah mulai bergetar lagi oleh goyangan tubuh mereka. Sambil menggenjot Samid meraih payudaraku dan memencetnya lembut sebagai sinyal mengajakku segera bergabung.

“Ntar yah, gue mo minum dulu nih, haus” kataku sambil bangkit berdiri dan mengambil sebuah gelas, aku membuka kran dispenser yang terletak di dekat jendela untuk mengisi air.

Ketika sedang meneguk air tiba-tiba aku mendengar suara kresek-kresek di pintu. Kutajamkan pendengaranku dan melihat ada seperti bayangan di celah bawah pintu, pasti seseorang mengintip kami pikirku. Aku tadinya bermaksud memberitahu mereka, tapi sebaiknya kuselidiki sendiri karena mereka sedang sibuk berpacu dengan nafsu sampai tidak begitu menghiraukanku. Kusingkap sedikit tirai jendela untuk melihat siapa di luar sana, ada seseorang pria sedang menempelkan telinganya pada pintu, dia juga berusaha mencari-cari lubang untuk mengintip, tapi wajahnya tidak jelas. Dalam pikiranku terbesit sebaiknya kuajak saja dia untuk meramaikan, mumpung aku daritadi belum Dimasuki penis karena Samid sedang asyik menggumuli Nuri. Maka sebelumnya aku melihat dulu sekeliling apa ada orang lain lagi selain dia, letak kamar ini cukup strategis agak ujung dan jauh dari keramaian, setelah yakin tidak ada siapapun lagi selain pengintip ini kuberanikan diri membuka pintu mengejutkannya. Pelan-pelan gagang pintu kuputar dan…

“hiya…” orang itu terdorong masuk karena sedang menyandarkan tubuhnya pada pintu, dengan cekatan pintu kembali kututup. Orang itu benar-benar terkejut, bingung, dan terangsang melihat sekelilingnya bugil dan ada yang bersenggama pula.

Samid dan Nuri yang sedang berasyik-masyuk kontan ikut terkejut, Nuri menyambar guling untuk menutupi tubuhnya dan menjerit kecil. Belakangan aku tahu dia adalah kacung di kost ini, namanya Amran, usianya masih 17 tahun, anaknya tinggi kurus dan berkulit sawo matang. Tadinya dia cuma mau mengambil barang di gudang yang kebetulan harus lewat kamar ini, ketika itu lah dia mendengar suara-suara aneh dan terpancing untuk mendengar dan mengintipnya. Dia langsung tertunduk-tunduk minta maaf berkali-kali karena dimarahi Samid yang merasa gusar diintip olehnya. Namun ketika Samid merenggut kerah baju pemuda itu dan hendak memukulnya buru-buru aku mencegah dan menenangkan si Samid yang bertemperamen tinggi.

“Ehhh…udah-udah, dia kan ga sengaja tadi, kita juga yang salah terlalu keras suaranya…udah lu sana aja terusin pestanya sama Nuri, biar dia gue yang urus, lagian di sini kurang cowoknya” bujukku mengedipkan sebelah mata pada Samid. Kuelus-elus dada Samid dan berusaha menenangkannya, setelah kubujuk-bujuk akhirnya dia mundur juga.

“Tenang Mid, lu orang terusin aja, biar gue urus yang ini”

Akupun tersenyum padanya mencoba mengajak bicara sambil memegangi kedua lengannya, kurasakan tubuhnya masih agak gemetar dan tertunduk, entah karena tegang, kaget, atau malu.

“Nama lu Amran ya ?” tanyaku dengan lembut dan dijawab dengan anggukan kepalanya.

“Lu tadi udah ngeliat apa aja Ran ?” tanyaku lebih lanjut

“Belum liat apa-apa kok Non, sumpah…saya cuma denger suara-suara terus saya cari tau” jawabnya terbata-bata

“Terus kamu tau apa yang kita kerjain barusan itu ?” dijawab lagi dengan anggukan kepala

“Kamu pernah ngerasain bercinta sebelumnya ?”

“Nggak pernah Non, paling cuma liat di VCD sambil coli”

“Ya udah Ran, berhubung kamu udah disini gimana kalau gue ajarin kamu soal gituan” aku tersenyum lagi dan mengangkat wajahnya yang tertunduk, walaupun gugup tapi matanya terus ke arah tubuhku yang polos, sebentar-sebentar juga melihat ke arah Nuri.

“Sini Mbak bukain bajunya, biar enakan, ayo…jangan malu-malu disini semua bugil kok !” kulucuti pakaiannya tanpa menunggu responnya, dia masih malu-malu menutupi penisnya dengan tangan.

Kutepis tangannya dan kugenggam penis yang masih setengah tegang itu, aku berlutut di depannya dan mulai menjilati benda itu, kemasukkan bagian kepalanya ke mulutku dan kuhisap pelan. Aku melirik ke atas melihat reaksi wajahnya dengan mata merem-melek dan menelan ludah memperhatikan aku mengoralnya. Makin kukocok benda itu terasa makin keras dan besar, memang ga jumbo size sih, namanya juga ABG, tapi kerasnya lumayan.

“Hmmmhhh…Mbak…geli mbak !” erangnya gemetaran.

“Udah jangan cerewet, dikasih enak gratisan malah bawel, nanti juga ketagihan kok” jawabku.

Tiba-tiba terdengarlah suara musik heavy metal mengalun di kamar ini, sambil terus menyepong kulirikkan bola mataku ke arah suara. Ternyata si Samid menyalakan MP3 di komputernya dan menyetel volume suaranya untuk meredam suara kami. Kemudian mereka yang tadinya melongo memperhatikanku mengerjai anak muda sudah mulai lagi dengan kesibukan mereka. Kini Samid menaikkan kedua tungkai Nuri ke bahunya dan kembali melesakkan penisnya ke vaginanya. Setelah beberapa kumainkan dalam mulutku, penis itu mulai berkedut-kedut, pemiliknya juga mendesah makin tak karuan. Akupun semakin dalam menelan benda itu hingga menyentuh daging lunak di tenggorokanku.

“Mbak…ohhh…enakk banget mbak…aahhh !” desahnya panjang bersamaan dengan spermanya yang ngecret di dalam mulutku

Pipiku sampai kempot mengisap dan menelan cairan itu dengan nikmat, tak setetes pun tertinggal. Kemudian akupun bangkit berdiri sambil tetap menggenggam penisnya yang masih ngaceng tapi agak berkurang tegangnya.

“Gimana Ran, pernah diginiin ga sama cewek sebelumnya, rasanya gimana ?” tanyaku dengan senyum nakal.

“Baru pertama kali mbak…he-eh emang enak banget” katanya masih dengan nafas terengah-engah.

“Ini baru pemanasan Dan, masih banyak yang lebih enak kok, yuk sini deh !” kataku seraya menaikkan pantat ke meja belajar dan mekangkangkan kedua belah paha mulusku.

Kubimbing penisnya ke arah vaginaku yang terkuak lebar, setelah tepat sasaran kusuruh dia menggerakkan pinggulnya ke depan.

“Blesss….” terbenamlah penis itu ke dalam vaginaku diiringi desahan nikmat kami. Tanpa kuajari lagi dia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya maju-mundur, sodokannya walaupun terasa makin mantap tapi rasanya masih ada yang kurang yaitu dia tidak memberi rangsangan pada bagian sensitifku lainnya, maklumlah namanya juga perjaka, masih amatiran. Aku harus terus berinisiatif mengajarinya, maka kutarik kepalanya mendekati payudaraku yang membusung, kusuruh dia mengeyotnya sepuas hati. Barulah dia mulai berani menjilati dan mengulum payudaraku, bahkan tangan satunya kini aktif menggerayangi payudaraku yang lain.

Entah karena terlalu nafsu atau kelepasan dia gigit putingku yang kanan dengan cukup keras, sampai aku menjerit.

“Aakkhh…Ran sakit, jangan keras-keras dong !”

Di seberang sana Nuri sudah dibuat orgasme entah yang keberapa kalinya. Tak sampai lima menit berikutnya Samid pun mendesah panjang mencapai klimaksnya, dia mencabut penisnya dari vagina Nuri dan menumpahkan isinya diatas perut rata Nuri. Merekapun roboh bersebelahan, Nuri mengusap-ngusapkan sperma itu ke tubuhnya dan menjilati sisi-sisanya di jari. Amran masih terus menyodokku dari depan, gairahku makin memuncak saja, gairahsex.com vaginaku terasa makin panas akibat gesekan dengan penisnya, suara erangan kami terlarut bersama dengan dentuman musik rock dari komputer. Bosan dengan posisi ini, dia memintaku ganti gaya. Sekarang kami melakukannya dengan gaya berdiri, aku berpegangan pada tepi meja sambil disodok dari belakang, dengan posisi demikian tangannya lebih bebas menggerayangi payudaraku yang bergantung, putingku dipencet dan dipilin-pilin terkadang agak kasar sampai benda itu mencuat tegang.

“Ran…tambah cepet dong…mbak udah mau nih…!!” aku mengerang lirih saat kurasakan klimaks sudah diambang.

“Ooohhh…ahhh…saya juga….kok rasanya tambah…enak mbak” sahutnya dengan menambah goyangannya

“Keluarin di…dalam….jangan cabut burung lu…ahh” kataku dengan suara bergetar

Kamipun mencapai orgasme bersama, tubuhku menggelinjang hebat, aku berteriak seolah mengiringi lagu di komputer, kepalaku terangkat dan mataku merem-melek. Si Amran juga mendesah nikmat merasakan orgasme pertamanya bersama seorang wanita. Spermanya menyembur banyak sekali di dalam rahimku, cairan hangat dan kental itu juga membasahi daerah selangkanganku serta sebagian meleleh turun ke pahaku. Tubuhku lemas bersimbah peluh dan jatuh terduduk di kursi terdekat. Kubentangkan pahaku lebar-lebar agar bagian itu mendapat angin segar, soalnya rasanya panas banget setelah begitu lama bergesekan. Liang kenikmatanku nampak menganga dan sisa-sisa cairan persengamaan masih menetes sehingga membasahi kursi di bawahnya.

“Saya mau lagi dong Mbak, abis barang Mbak legit banget sih, lagi yah Mbak !” pintanya sambil menggenggam penisnya yang masih tegang itu di dekat wajahku.

“Iyah, tapi nanti yah, Mbak istirahat sebentar” jawabku sambil mengelap keringat di wajahku dengan tisu.

Kulihat Samid bangkit dan mendekatiku, senjatanya sudah dalam posisi siap tempur lagi setelah cukup istirahat. Dia belai rambutku dan meraih tanganku untuk digenggamkan pada penisnya.

“Yuk, Cit…sambil kumpulin tenaga, kasih senjata gue amunisi dulu dong !” pintanya

Akupun memijati benda itu diselingi jilatan. Melihat si Amran yang bengong aku pun menarik tangannya menyuruh berdiri di sisi kananku. Maka dihadapanku sekarang mengacunglah dua batang senjata yang saling berhadapan dan masing-masing kugenggam dengan kedua tanganku. Kugerakkan tangaku mengocok keduanya, mulutku juga turut melayani silih berganti.

Merasa cukup dengan pemanasan, Samid menyuruhku berhenti, dan menyuruhku bangun dulu, lalu dia duduki kursi itu baru menyuruhku duduk lagi di pangkuannya (sepertinya mau gaya berpangkuan deh). Dengan agak kasar dia menyuruh Amran menyingkir

“Heh, sana lo….kali ini giliran gue tau, jangan ganggu lagi !”

“Eee…udah jangan galak ah, gitu-gitu juga dia kan yang bantu-bantu lu orang di sini” sahutku mengelus lengan Samid.

“Ran lu minta mbak yang itu aja buat ngajarin lu” lanjutku

“Nur mau ya ajarin dia bentar kan, masih pemula nih”

Sekarang Amran tidak segrogi saat pertama main denganku barusan, dia menindih tubuh Nuri yang masih terbaring. Nuri mengajarinya teknik berciuman, nampaknya Amran cepat dalam mempelajari teknik-teknik bercinta yang kami ajarkan, sebentar saja dia sudah nampak beradu lidah dengan panasnya bersama Nuri, tangannya juga kini lebih aktif menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Nuri memberi rangsangan. Nuri yang gairahnya sudah bangkit lagi merespon dengan tak kalah hebat. Dia berguling ke samping sehingga dia kini di atas Amran, lidahnya tetap bermain-main dengan lidah lawannya sementara tangan lembutnya meraih penis pemuda tanggung itu serta mengocoknya, Amran mendesah-desah tak karuan menghadapi keliaran Nuri. Nuri membimbing penis itu memasuki vaginanya, dengan posisi berlutut dia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk ke dalamnya. Kemudian mulailah dia menaik-turunkan tubuhnya dengan gencar membuat pemuda tanggung itu kelabakan. Kedua tangan Amran mencengkram kedua payudara Nuri dan meremasinya dengan bernafsu.

Di tempat lain aku sedang asyik menggoyangkan tubuhku di pangkuan Samid. Vaginaku dihujam penisnya yang sekeras batu itu. Otot-otot kemaluanku serasa berkontraksi makin cepat memijati miliknya. Tangannya yang mendekapku dari belakang terus saja menggerayangi payudaraku dengan variasi remasan lembut dan kasar. Kutengokkan wajahku agar bisa berciuman dengannya, lidah kami saling membelit dan beradu dengan panasnya. Beberapa menit kemudian mulutnya merambat ke telingaku, dengusan nafasnya dan jilatannya membuatku merinding dan makin terbakar birahi. Mulutnya terus mengembara ke tenguk, leher, dan pundakku meninggalkan bekas liur maupun bercak merah. Tanpa terasa goyangan tubuh kami semakin dahsyat sampai kursinya ikut bergoyang, kalau saja bahannya jelek mungkin sudah patah tuh kursi. Posisi ini berlangsung 20 menit lamanya karena kami begitu terhanyut menikmatinya. Selama itu terdengar dua SMS yang masuk ke ponselku namun tak kuhiraukan agar tak merusak suasana.

Akhirnya akupun tak bisa menahan orgasmeku, tubuhku kembali menggelinjang dahsyat, pandanganku serasa berkunang-kunang. Mengetahui aku akan segera keluar, dia makin bergairah, tubuhku ditekan-tekan sehingga penisnya menusuk lebih dalam, tangannya pun semakin kasar meremasi payudaraku.

“Aaaahhkkkk….!” jeritku bersamaan dengan lagu mp3 yang hampir berakhir

Kugenggam erat lengan Samid dan menggigit bibir merasakan gelombang dahsyat itu melanda tubuhku. Aku merasakan cairan cinta yang mengalir hangat pada selangkanganku. Akupun akhirnya bersandar lemas dalam dekapannya, penisnya tetap menancap di vaginaku, nafas kami tersenggal-senggal dan keringatpun bercucuran dengan derasnya. Kemudian dia angkat tubuhku hingga penisnya tercabut, tangan satunya menyelinap ke lipatan pahaku. Diangkatnya tubuhku dengan kedua lengan, aku menjerit kecil saat dia tiba-tiba menaikkanku ke lengannya karena kaget dan takut jatuh. Dibawanya aku ke ranjang lalu diturunkan di sana, nafasku belum teratur sehingga nampak sekali dadaku turun naik seperti gunung mau meletus. Tepat disebelah kami Amran sedang menindih tubuh telanjang Nuri dengan gerak naik-turun yang cepat. Nuri hanya bisa menggelinjang dan mendesah, rambut panjangnya sudah kusut tak karuan, matanya menatap kosong pada kami.

“Lagi yah Ci, dikit lagi tanggung gue belum keluar nih” pinta Samid sambil merenggangkan kedua pahaku.

Aku hanya pasrah saja mengikuti apa maunya. Dengan lancar penisnya yang sudah basah dan licin itu meluncur ke dalam vaginaku, aku mendesis dan meremas sprei saat dia hentakkan pinggulnya hingga seluruh penisnya masuk. Lagu dari komputer entah sudah berganti berapa kali, kali ini yang mengalun adalah lagunya Aerosmith yang dipakai soundtrack film ‘Armageddon’nya Bruce Willis. Lagu ini mengiringi permainan kami dalam babak ini. Perkasa juga si Samid ini, dia masih sanggup menggenjotku dengan frekuensi tinggi sampai tubuhku terguncang hebat, padahal sebelumnya dia sudah membuatku dan Nuri orgasme, kekuatannya jauh lebih meningkat dibanding ketika pertama kali one night stand denganku setahun lalu. Aku menggenggam tangan Nuri dan bertatapan wajah dengannya

“Udah berapa kali Nur ?” tanyaku bergetar

“Nggak tau…udah aahh…keenakan…ga hitung…lagi” jawabnya dengan mata merem melek.

Aku makin tak terkontrol, kepalaku kugelengkan ke kiri-kanan, sesekali aku menggigit jari saking nikmatnya kocokan Samid. Dia mempermainkan birahiku dengan sengaja tidak menyentuh payudaraku membiarkannya bergoyang-goyang seirama badanku, sehingga aku sendiri yang berinisiatif meraih tangannya dan meletakkannya di payudaraku, barulah dia mulai memencet-mencet putingku membuatku semakin terbakar. Akhirnya akupun sudah tidak kuat lagi, perasaan itu kuekspresikan dengan sebuah erangan panjang dan menarik sprei di bawahku hingga berantakan.

“Udah dulu dong, Mid…gue gimana bisa kuliah ntar !” pintaku dengan terengah-engah

Tubuhku basah seperti mandi saja, habis AC kamarnya lagi rusak sih, sementara ini cuma ada kipas angin berukuran sedang, sedangkan iklim di Jakarta tau sendiri kan seperti apa gerahnya. Paham dengan kondisiku, dia biarkan aku beristirahat, dikecupnya bibirku dengan lembut disertai sedikit kata-kata manis dan pujian, setelah itu dia beralih ke Nuri untuk menuntaskan hajatnya yang tinggal sedikit lagi. Kuseka dahiku yang bercucuran keringat lalu kulirikkan arlojiku, 20 menit lagi jam tiga, harus segera siap-siap kembali ke kampus.

Nuri yang sedang dalam posisi dogie digarap dari dua arah oleh mereka. Amran yang menyodoknya dari belakang akhirnya klimaks, dia mengeluarkan penisnya dan menyiramkan isinya di punggung dan pantat Nuri. Si Samid yang sedang menyetubuhi mulut Nuri juga tak lama kemudian menyusul, dia mengerang sambil menahan kepala Nuri pada penisnya. Nuri sendiri hanya bisa mengerang tertahan dan matanya merem melek menerima semprotan sperma Samid, nampak cairan putih itu meleleh sedikit di pinggir bibir mungilnya. Samid ambruk di sisiku dengan memeluk Nuri yang menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya, si Amran terduduk lemas di bawah ranjang (karena ranjang sudah penuh sesak). Setelah tubuhku cukup stabil, pelan-pelan aku bangkit menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Disana aku mencuci muka, dan membersihkan ceceran sperma di tubuhku dengan air. Nuri masuk ketika aku sedang duduk di toilet buang air kecil.CerpenSex

“Huh…ngagetin aja lu Nur, rambut acak-acakan kaya kuntilanak gitu lagi !” ujarku

“Kuntilanak bajunya putih oi, ga bugil gini” jawabnya asal, lalu menyalakan kran wastafel.
Setelah selesai berbenah diri, kami mengenakan kembali pakaian kami untuk kembali kuliah. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga, maka itu kami agak terburu-buru sampai aku melupakan ponselku sehingga pulang kuliah aku harus balik lagi ke sini untuk mengambilnya. Kami berlari-lari kecil ke kampus, mana ruang kuliahku di lantai tiga lagi, aku sampai ke kelas terlambat lima menit, untung belum melebihi toleransi keterlambatan. Di kelas pun aku tidak bisa fokus karena selain masih lelah, dosennya, Pak Iwan ngomongnya juga slow motion, bikin ngantuk saja sehingga beberapa kali aku menguap. Temanku di sebelah bahkan bertanya
“Baru bangun tidur lu Cit ? kok kusut gitu” karena make up ku memang agak luntur waktu cuci muka tadi
“Iyah nih masih ngantuk tadi di kost temen belum cukup tidurnya” jawabku tersenyum dipaksa
Lelah sekali hari itu sehingga begitu sampai di rumah aku langsung tiduran dan bangun jam tujuh malam, baru mandi untuk bersiap-siap menunggu jemputan Verna dan lainnya untuk nge-dugem malam itu.