Peach Pies putri SEX Mizuna Rei S Model 73-Gadis17
Peach Pies putri SEX Mizuna Rei S Model 73-Gadis17 . Entah suamiku itu tau atau tak, karena sejak kita membina hubungan sebatas kawan namun layaknya orang yg berpacaran, aqu sering kali tertangkap basah sedang melamun,  sembari memegangi liontin tersebut, bahkan sampai ketika ini dan aqu simpulkan bahwa Suamiku tau itu namun tak menanyakan lebih lanjut untuk membahasnya, karena dia juga pernah bilang, sebuah memory bisa terlahir dari kejadian yg menyakitkan, dan tak usah dihapuskan, karena perihal itu pastilah indah, cuma pemilik memorylah yg merasakan keindahannya, dan dia sangat berhak untuk menikmatinya, namun yg tak kalah penting bahwa, kita jangan terlarut terus di dalemnya, jalanilah kehidupan ini dengan penuh resiko dan tanggung jawab sebagaimana mestinya. Begitulah nasihatnya padaqu, dan kata-kata itu seringkali dia lontarkan, setelah itu juga aqu akan merengut manja dan memeluk honey ke dadanya yg bidang. Diapun pasti membalas pelukan sembari mengecup Cinta di sekitar dahi dengan penuh kasih sayang.

Aqu menoleh ke arah pintu yg terbuka, dimana seseorang bermuka handsome tersenyum dibaliknya, suamiku…Bang Syarief !!

“Perihalo cantik…Istriku honey…sudah siap ?? aqu, bunda dan yg lain tinggal nungguin kamu loh..”kata suamiku tersenyum mesra.

“Iya Honey…bentar lagi yah…tinggal pakai sepatu kok”kataqu tersenyum manis, masih memegangi liontin tersebut, dia melihat tanganku yg menjawabnya sembari memegang liontin itu, dan memperlihatkan mimic muka

“Gotcha…!! Ketangkep deh gw…^ ^”, aqupun langsung kontan melepas peganganku pada liontin itu dan langsung menyengir tanda tak enak seolah-olah meminta maaf.

“Ya sudah…jangan lama-lama ya kalo ngelamun hehehe”tawanya meledek,

Aqu cuma menjulurkan lidah sedikit karena malu tertangkap basah olehnya.

“Iya Honey…maaf yah…”balasku dengan pipi merona karena malu.

Setelah pintu tertutup, aqu kembali merias diri dengan cepat, akhirnya usai dan turun menuju ruang makan. Menyantap makan malam bersama suami beserta segenap family.

Aqu sesekali menyuapi sang suami tercinta dan langsung banyak kata-kata godaan dari orang sekitar mengenai pengantin baru dsbnya, terutama dari adik perempuannya Bang Syarief, sebagai pengantin baru tentu kita begitu hangat dan mesra, Ibu mertuaqu juga sudah memaaafkan aqu, dia sudah mengerti bahwa siapa sesungguhnya yg menjadi korban.

“Gimana honey…enak ‘gag ayam kremesnya..??” tanya Bang Syarief sembari menyeka sisa-sisa makanan di sekitar mulutku dengan selembar tissue.

“Hhmm…enak..enak bingit…apalagi kalo desert-nya ciuman kamu” kataqu dengan mengecup tangannya merespon kasih sayangnya.

Bang Syarief mengecup dahi-ku dan semua tersenyum karena melihat kita berdua begitu mesra. Setelah usai makan malam kita berpamitan hendak kembali ke kamar, kebetulan beberapa kawan Bang Syarief juga turut dalem perayaan besar-besaran ini, namun kawan-kawanku tak, kawan-kawan Bang Syarief lebih dekat dengan keluarga Bang Syarief karena sering menginap bermain guitar Aqustik di rumahnya.

“Rief…Istri sih istri…namun inget anak orang jangan kasar-kasar hehehe..”ledek Dodik salah satu kawan Bang Syarief.

“Hehehe sialan loe…”jawab Bang Syarief sembari menyikut perut kawannya itu.

Mendengar suamiku diledek kawan-kawannya, aqu langsung menggelayut manja pada lengan Bang Syarief yg macho itu karena dia seorang pecinta Karate, untuk membuat kawan-kawannya iri padanya. Setelah itu kita berlalu meninggalkan mereka, di depan tangga Bang Syarief tiba-tiba mengangkat badanku yg mungil jika dibandingkan dengan badannya itu, lelaki normal pun kecil jika disejajarkan dengan dia, aqu cuma menjerit kecil sembari memukul manja dadanya dan kuakhiri dengan tersenyum semanis mungkin, kedua tanganku bergelayut ke lehernya, menandakan sebuah kepasrahan dari seorang perempuan pada lelakinya, betina ke pejantannya, istri terhadap suaminya.

Menuju ke pintu kita beradu mulut dengan mesra, sampailah kita di depan pintu, aqu bertugas membuka pintu yg masih terkunci itu, tiba-tiba,

“Aaawh…iih Abang Iiiihh…Haawh”kataqu manja karena dia sengaja menurunkan badan pada bagian leher seakan-akan menginginkan aqu jatuh, walaupun aqu tau bahwa itu tak mungkin. Dia cuma tertawa senang karena berhasil meledekku.

Kita masuk ke kamar untuk melaqukan ritual malam pertama, Bang Syarief menaruhku di sisi ranjang, setelah itu dia berlutut di depanku dan mengambil sesuatu dari kantong jas hitamnya, yg berupa kotak perhiasan, bentuknya panjang dan sebagai perempuan aqu tau bahwa itu adalah sebuah liontin. Aqu terima pemberiannya dan kubuka, ternyata betul sebuah liontin, jauh lebih indah dari yg kukenakan ketika ini, dan pasti jauh lebih mahal karena memang Bang Syarief seorang eksekutif muda yg sukses, manager keuangan muda, tampaknya secara tak langsung dia ingin aqu untuk melupakan semua memory, melepas dan menggantinya dengan sebuah lembaran yg baru, lembaran kehidupan yg putih bersih, dimana pada sampulnya tertulis namaqu dan namanya. Itu harus dipaksakan, sebagaimana jika kita ingin mengajari anak, jika tak bisa dengan cara halus, maka harus dengan cara kasar untuk mencambuknya, karena hidup memang keras, dan semua itu bertujuan untuk kebaikannya kelak.

Begitu juga ketika ini, maka aqu yg langsung mengerti bergerak mencopot liontin lamaqu, liontin yg diberikan oleh Mas Daryanto…yah, itulah namanya, pacar masa SMU-ku, cinta pertamaqu, lelaki yg pertama kali melindungiku bahkan mempertaruhkan nyawanya untukku. Aqu menaruh liontin itu di meja, Bang Syarief dengan gentle memakaikan liontinnya ke leher jenjangku yg berkulit putih dan mengakhiri dengan mengecup leherku penuh cinta, aqu sangat menyukai pemberian Bang Syarief suamiku, namun kalau boleh jujur ketika itu aqu masih tak rela melepas liontin Mas Daryanto, walaupun aqu juga tak menolak pemberian liontin dari suamiku tercinta, cuma saja aqu belum siap untuk betul-betul melupakan semua.

“Naaahh…kan kamu lebih cantik honey !!”godanya,

Aqu cuma menggigit bibir bawah dan tersenyum semanis mungkin ke arahnya, senang akan pemberian sang Suami, aqu mengecup dahi Suamiku, aqu ingin dia tak merasa resah dan kuatir bahwa aqu masih mencintai lelaki lain dan kurang mencintainya, itu salah. Aqu cuma belum siap untuk memilih antara memory dan kenyataan. Kita bergenggaman tangan, aqu memajukan bibir menantang, dan kita pun berpagutan dengan panas, saling menelanjangi satu sama lain, ranjang pun bergoyang bagai ombak di lautan yg diterpa badai, suara kita bergemuruh menambah ramainya kamar pengantin bertebar bunga itu, Aqu beruntung sekali mendapatkannya…

Bang Syarief seorang perjaka!! Lelaki yg selalu mengenakan jas layaknya eksekutif, handsome, kaya raya, pekerja mapan, baik hati, lemah lembut tutur katanya dan selalu mengalah padaqu yg egois ini ternyata seorang perjaka, sebuah keberuntungan cinta yg luar biasa!! Aqu yg malah merasa tak enak terhadapnya, aqu merasa tak pantas untuknya, lelaki sepertinya pantas mendapatkan seorang perawan tulen yg cantik dan tak kalah mapan, baik itu harta maupun jabatan, namun itulah suatu bentuk keadilan Tuhan, ketetepannya tak pernah kita ketaui sebagai manusia, aqu cuma bisa bersyukur.

Tak ada tes memang untuk keperjakaan itu, namun aqu tau dari gerakan sex-nya yg sangat kaqu, justru aqu yg mengatur tempo, dia cuma tinggal menyerang secara alami dan diapun lama kelamaan terbiasa. Namun kuputuskan memakai gaya konvensional saja, agar prosesi persebadanan kita lebih mudah, kuselipkan sebuah bantal di bokongku dan diapun langsung pintar menyambutnya. Malam pertamaqu bersama Bang Syarief sangatlah terasa singkat, tak terasa waktu telah menginjak tengah malam, dimana matahari malam tersenyum bulat lebar.

Aqu terbangun di ketika malam hendak meninggalkan gelapnya menuju cerahnya sinar pagi, mendekati waktu subuh, aqu melihat seketika ke arah Bang Syarief yg tampak masih kelelahan, walaupun dia seorang pemula dalem perihal sex, namun tenaganya sangat bisa menguras tenagaqu dari bertahan, bahkan mampu membuatku klimaks beberapa kali, mungkin dikarenakan badannya yg tegap, jantan dan suka berolah raga kasar itu. Aqu membelai sayang rambutnya, sampai pandanganku tertuju pada suatu benda di atas meja, yg tadi kutaruh ketika memakai pemberian Bang Syarief, liontin Mas Daryanto!! Aqu mengambil liontin itu dan menggenggamnya, aqu melihat kembali suamiku dan akan kuputuskan sesuatu perihal yg seharusnya kuputuskan dari dulu diketika aqu mengenal Bang Syarief, yaitu meninggalkan pahitnya sebuah MEMORY.

Kuambil kimono putih hotel dan berjalan keluar, beberapa kawan Bang Syarief ternyata bergadang, mereka menyapa dan sempat meledek menggodaqu mengenai asiknya malam pertama kita, aqu cuma tertawa dan melayani obrolan mereka dengan singkat. Akhirnya aqu berhasil keluar menuju sisi pantai, mereka sempat menanyakan aqu mau kemana namun aqu cuma menjawab ada perlu sedikit di lobby hotel. Aqu berdiri di sebuah tembikar, melihat kosong ke gumpalan buih dilautan, aqu kembali teringat seluruh kisah hidupku yg penuh lika-liku, pelik namun banyak sekali perihal yg bisa dipetik. Semua perihal itu yg dinamakan bumbu kehidupan, pengalaman yg bisa diajarkan kelak ke anak cucu kita sekalian, dimana isinya Suka Duka Benci Cinta Dendam Rindu Pahit Manis Hitam Putih dsb. Liontin itu kupandang di genggaman tangan kananku, Aqupun melamun teringat semua memory, ketika itu….Dimulai ketika aqu masih mengenyam pendidikan di bangku SMP.

“Mis…bokin lu Mis…kesini lu…dari tadi gue udah curiga !!”kata Silvia sahabatku,

“Ada apaan sih…ngagetin aja..gue lagi baca !!”kataqu protes,

Karena sedang bersiap-siap untuk ulangan mendadak.

“Sini ah…!!”katanya menarik lenganku secara paksa,

Aqupun menuruti ajakan sahabatku itu, menuju kantin terus berjalan ke belakang, di sana

ada sebuah ruangan kecil untuk menaruh obat-obatan yg dipakai ekskul palang merah, karena sedikit sekali peminat ekskulnya ruangan itu menjadi kosong, sebenarnya cuma bisa dikatakan gudang. Salah seorang sahabatku yg lain, sudah berada di depan pintu ruangan itu yg sedikit terbuka, wanita itu bernama Jessy, mulutnya meruncing sembari menunjuk-nunjuk ke arah ruangan itu, semakin kuayunkan langkah kakiku dan semakin dekat ke ruangan itu, jantungku semakin berdegup cepat, Deg…!! Aqu melihat seorang lelaki berpakaian basket sedang mencium seorang wanita, yg kutau mereka adalah Febry pacarku dan Sephin adik kelas, kawan-kawanku akhir-akhir ini sudah sering memberi peringatan atas kelaquan Febry, cuma saja ketika itu aqu belum melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri, bukan aqu tak percaya oleh para sahabatku.

“Eh Gila…!!”kataqu dengan nada galak dan to the point.

Sontak mereka berdua terkejut mendengar suaraqu, tambah lagi bukan cuma ada aqu,

(Damn…ketangkep gw) dari mimik muka Febry. Muka Sephin ketaqutan melihat muka marah kakak-kakak kelasnya yg terkenal sangar itu ke arahnya, dia berani menyambut ajakan Febry karena memang Febry salah seorang siswa yg berprestasi dalem basket, kakak kelas handsome pujaan perempuan ketika itu.

Sebagai wanita yg pada dasarnya feminim, Aqu tak lama melihat marah pada mereka, aqu langsung lari menuju kelas dituruti para sahabat-sahabatku yg tau bahwa aqu akan menumpahkan air mata kekecewaan Cinta, kecewa sekali aqu pada Febry mantan pacarku, kesucianku kuserahkan padanya, memang itu kesalahan wanita remaja masa kini, namun sebagai perempuan aqu selalu bermimpi dia akan selalu setia padaqu selama-lamanya, gembel itu malah mencampakkanku mentah-mentah, dan dalem waktu yg singkat. Kawan-kawanku mencoba menenangkanku karena bel istirahat hendak berbunyi,

Betul saja,

“Teng !! Teng !! Teng !!” Bel pun berdentang. Aqu mencoba menghapus semua cairan yg membasahi sekujur mukaku, karena bukan cuma ada lelehan air mata yg mengalir. Kawan-kawanku juga berebutan memberikan aqu tissue dan sejenisnya, Guru sempat menanyakan karena mukaku Mukidik belur, aqu cuma bisa berdalih tak sehat, dan ketika itu juga aqu diijinkan pulang sekolah, syukurlah karena ketika itu ingin ulangan, bisa-bisa jeblok nilaiku gara-gara perihal yg tak bisa diputar balik. Menurut kabar, para sahabatku mendatangi kelas Sephin ketika pulang sekolah, menerornya habis-habisan sampai dia juga menangis, sejak itu pula tak ada yg berani memacari Febry mantanku, dia mencari wanita lain di luar sekolah.

Sejak ketika itu aqu berubah, di antara kedua sahabatku ini yg paling badung sebenarnya Jessy, kita bertiga bertemu ketika kelas 1 dan terus menjadi sahabat sampai kelas 3, bukan karena muka kita bertiga blasteran, kita cuma nyambung dan cocok saja ketika bercanda ria. Jessy sudah merokok ketika itu, kita berdua cuma meledek dengan batuk-batuk jika si Jessy baru saja mengambil Zippo dari tasnya, dan dia cuma protes,

“Belum juga dinyalain..!!”gerutunya pada kita sembari tersenyum, tau bahwa sahabatnya sedang meledeknya karena tak suka dengan asap rokoknya, setelah itu dia tetep akan menyalakan, menghisap dan menghembuskannya sengaja ke arah aqu dan Silvia.

Kejadian itu merubah perangaiku, aqu juga turut merokok bahkan Silvia pun juga, karena merasa se-geng otomatis pergaulan menyeretnya. Bahkan yg tadinya aqu ini dikenal dikelas dengan pelajar berprestasi, dengan berlalunya waktu merasakan patah hati semua itu luntur. Ibuku sempat memarahi perubahan itu, dia menggerutu-gerutu dengan keluhan mencari uang susah, uang bayaran sekolah sekarang mahal, dsb. Ketika itu aqu belum tau bagaimana perjuangan keras orang tuaqu dalem menghidupi kita, yg hutang sana hutang sini untuk mencari sesuap nasi dan uang sekolahku, pada ketika itu persis setaun setelah krisis moneter pertama sekitar taun ‘98, dimana banyak Perusahaan besar yg bangkrut, PHK dimana-mana, sampai usaha kecil seperti ayah-ku pun gulung tikar. Aqu malah berpaling dan mementingkan perihal yg sama sekali tak penting. Aqu ngobrol sembari menghisap rokok bersama kedua sahabatku di bagian belakang sekolah,

“Mis..lu ga bisa lah begini terus…mending lu luapin aja ke suatu perihal”kata Jessy.

“Suatu hal gimana Huff…”jawabku sembari meniupkan asap rokok sampai mengepul.

“Ya kaya gue aja hehehe jadi lega loh…”saran Jessy.

“Gila lu Jess…”kata Silvia yg tau maksudnya,.

Jessy pernah mengalami masa patah hati sepertiku ketika ini sekitar 2 taun yg lalu, ketika ini kita kelas 3 SMU, dia lebih dulu mengalami perihal ini, dan waktu itu kita berdua yg menghiburnya, perihal yg serupa juga dialami Silvia setaun setelahnya. Mereka berdua meluapkan masalah mereka pada sex bebas, Jessy ketika itu menghampiri Pak Mukidi satpam sekolah dan bercinta habis-habisan, satpam sekolah itu tentu ho-oh saja diajak bugil dan fly to the sky oleh wanita SMP blasteran macem Jessy yg cantik Indo, dan sejak ketika itu pula sampai kini mereka masih sering melaqukan hal itu kapanpun dan dimanapun.

Begitu pula Silvia dengan Pak Slamet tukang sapu sekolah kita yg juga mengurusi kebun, tak jarang aqu atau Jessy menangkap basahnya sedang meng-oral Pak Slamet, tukang kebun itu sangat menyukai sekali dengan keahlian Silvia yg satu itu, short time sex mereka pasti perihal ini. Silvia memang terkenal dengan muka manis dan bibir tipis sexynya yg seringkali dihiasi lipgloss pink, sebab itulah Pak Slamet seringkali sange berat dengan sepongan mulut ajaib Silvia. Tadinya Silvia yg dengan nakal menggoda Pak Slamet, namun sekarang malah jadi dia yg sering diseret Pak Slamet untuk menghisap kejantanannya sampai disuruh menelan air maninya, agar mudau terasa lebih muda dan gagah katanya berdalih mesum.

“Hhmmh…boleh juga tuh Jess..bener juga sih Sil”kataqu pada Silvia,

yg sebenarnya tak ingin kalau aqu menuruti jejak lonte mereka, karena dari awal memang mereka berdualah yg nakal, meskipun harus kuaqui juga bahwa aqu bukanlah perempuan yg lurus karena juga sudah melaqukan sex di masa muda, cuma saja belum seliar yg dilaqukan kedua sahabatku itu.

“Seru kalee…!!”tambah Jessy.

“Iya tapi sama siapa yah…??”tanyaqu pada mereka.

“Hhmm itutuh…nganggur Bandot !!”sahut Jessy menunjuk ke arah Mang Trimin.

Lelaki berumur 50-an, hitam legam, berkumis tipis, badan sedang dalem artian tak gendut seperti Pak Slamet gaco’an Silvia, namun juga tak segagah Pak Mukidi satpam gebetan Jessy itu. Pak Slamet berumur 45-an sementara Pak Mukidi atau Mukidi berumur 40-an. Jessy blasteran U.K England, ayahnya yg sering pulang pergi itu jarang mengawasi anak wanitanya, sementara ibunya sibuk arisan dan suka main gigolo, bisa dibilang Jessy wanita broken home, kedua orang tuanya sudah jarang berbicara walaupun bergelimangan harta benda, itulah yg membuatnya menjadi wanita nakal, sedangkan Silvia blasteran Kanada, orang tuanya tak jauh beda dengan Jessy, cuma saja ayah Silvia tak sering pulang pergi, namun seringkali ribut dan bertengkar dari sebuah perihal yg tak perlu, jika aqu dan Jessy main ke rumahnya, pasti perihal ini kita temui. Keadaan kita hampir sama.

Sedangkan aqu yg bernama Miska Anjani seorang wanita pribumi, ibuku asli Bogor, setelah dinikahi ayahku yg asli Jakarta, mereka pindah dan menetap di Jakarta ini, dari darah ibukulah yg membuat aqu memiliki kulit putih, jadi kita adalah 3 wanita berkulit putih, walaupun kulit putih kita bertiga memiliki tipe yg berbeda, kalau aqu putih Asia, Jessy putih khas Eropa dan Silvia putih khas Amerika. Mang Trimin tersenyum saja melihat kita bertiga melempar pandangan ke arahnya, dia sedang memegang tempat sampah untuk memenuhi pekerjaannya sebagai pembersih WC dan tukang sampah.

“Eh eh…taruhan yuk..siapa yg bisa bikin si Trimin itu paling sange..dia pantes ditraktir dinner sama clubbing !!”kata Jessy jalang.

“Ok…siapa taqut…namun ntar kalo dia udah sange gimana??”tanya Silvia.

“Yee kan tanggungan si Miska dong…kan emang Trimin buat Miska…kitakan udah ada!!” jawab Jessy.

“Iya Mis ya…Deal nih ?!”tanya Silvia tegas.

“Oke…siapa taqut !!”jawabku yg ingin segera menghilangkan stress karena cinta itu.

Jessy yg paling jalang diantara kita itu langsung mulai menggoda Mamang dengan menumpukkan kedua kaki jenjangnya seperti para lonte yg hendak menawarkan diri, rok biru SMP-nya yg pendek itu menambah pemandangan paha Jessy, beruntungnya Mang Trimin, kali ini para lontenya tak menuntut sesenpun darinya, cuma berniat mengosongkan kantung air maninya yg geleber-geleber karena berumur itu. Mang Trimin langsung menelan ludah melihat betis Jessy yg mulus itu, Trimin Jr. yg berada di selangkangan Mang Trimin langsung bangun tanpa weker, celana Mang Trimin menonJessl dibagian itu, kita sebenarnya geli sekali membuatnya mupeng seperti itu, namun mengasyikan kadang berbuat jalang seperti ini, melupakan sejenak masalah hidup.

Silvia yg tak mau kalah, berpura-pura menggaruk-garuk pacuma,

“Aduuh..kok gatel sih…” katanya sembari menahan tawa melihat Mang Trimin mulai ngos-ngosan gairah berat.

Sruukk..!!, tiba-tiba Silvia wanita manis hypersex itu menarik ke atas rok pendek di atas lututnya sampai terlihat dua buah gagang paha putih mulus milik wanita remaja, dan celana dalem yg berwarna hitam tipis menerawang tanda perempuan sedang horney berat.

“Edededeh…”kata Mang Trimin langsung melepas satu tangan berpegangan pada tiang di situ agar tak jatuh, tangan satunya masih memegangi tempat sampah.

Silvia belaga blo’on menggaruk-garuk paha putihnya itu, seolah-olah tak ada orang, si Jessy dan aqu cuma kembali menahan tawa.

(Wah giliran gue nih…gimana yah??)”pikirku dalem hati,

“Eleh eleh…lo juga gatel Sil ?kataqu sengaja mengeraskan suara.

“Iya nih..”sahut Silvia juga keras, masih sembari menggaruk kedua paha putihnya.

“Kalo gue disini…”kataqu, membalikkan badan, menungging dan menarik rokku ke atas, sembari berpura-pura menggaruk bokongku yg putih padat itu, Gumprang !!

“Adaawh…!!”teriak Mang Trimin, karena kakinya kejatuhan tempat sampah dari besi itu dan berputar-putar memegangi sebelah kakinya yg kesakitan, sampah pun langsung berserakan. Pegangannya pada tempat sampah langsung lepas karena lemas melihat aqu menungging dan membuka rok untuk memamerkan badan yg kupunya.

“Ha ha ha ha…”tawa kita bertiga penuh kegelian.

Kita langsung toss five menandakan kekompakkan kejalangan kita, sukses besar yg membuat mupeng makhluk yg dinamakan lelaki.

Mang Trimin langsung jatuh kelelahan karena terus berjingkrakan, aqu kasihan juga pada dia dan langsung mendekatinya, kedua sahabatku malah meledekiku,

“Cie ileh…yg pedekate hahahaha”tawa Jessy meledek, dan Silvia juga menyambutnya dengan tawa manisnya.

 

Aqu cuma berbalik ke arah mereka sembari merengut tersenyum kecil,

“Aduh Mang maaf yah…sakit gag ??”tanyaqu berjongkok di dekat kakinya,

Sesampai rok-ku tersingkap dan otomatis paha putihku langsung dipelototinya.

“Aduuuhh…Neng Miska dehh…kalo becanda jangan keterlaluan dongh !”katanya sembari melirik ke dalem rok-ku, melihat celana dalem hitam super tipisku.

Dia protes namun tak menunjukkan kemarahannya, mungkin karena dikasih pemandangan gratis yg membuat Trimin Jr. berdiri tegag siap lari marathon itu.

“Iya Mang maafin kita yah…”kataqu memohon sembari memijiti kakinya yg tertimpa tempat sampah itu. Dia menelan ludah menikmati pijitan tangan putih halusku.

“Ya udah..namun Mamang nanya…buat apaan sih pada kaya gitu…bikin nanggung …sabun Mamang pan abis !!”katanya protes, dikiranya kita cuma ingin membuatnya onani saja.

“Hhmmm…ok deh…kalo Mamang pengen tau…”kataqu mengerlingkan mata genit.

“Jess…Sil…sini lu…!!”panggilku pada mereka.

Sahabatku itu berjalan dengan nakalnya mendekati kita, melenggag-lenggokkan bokong bagaikan seorang lonte high class.

“Apaan Mis…kan ini jatah lu..!!”kata Jessy meledek.

“Begituannya iya ntar gue sendiri…namun Mamang pengen kita bertiga minta maaf bukan gue sendiri”kataqu.

“Ooohh…ok deh kalo gitu”jawab Jessy mengerti langsung berjongkok disampingku.

“Mang bangun Mang..!”perintah Jessy galak.

“Hah…ma..mau pada ngapain Neng ?”tanya Mamang bingung-bingung namun horney,

Pikirannya pasti ngeres melihat kita berdua Jongkok dihadapannya, dua wanita blasteran yg terkenal cantik dan sexy berlutut di hadapannya belum ditambah Silvia, walaupun dia belum tau akan di eksekusi dengan kenikmatan seperti apa oleh kita.

“Udah ah…berdiri cepet…mau dikasih enak gag lu…?!”sahut Jessy galak-galak gairahin.

Membuat Mang Trimin dikirimkan CD demo berjudul “Mari Bercinta” oleh Trimin Jr. di selangkangan karena gairah abis, sampai membuat antrian panjang berjuta-juta air mani di kemaluannya yg sudah mengambil nomor urut seperti antri beras saja.

Mamang berdiri disusul Silvia berjongkok, kini aqu ditengah, disebelah kiri Jessy dan di sebelah kanan Silvia, tonjolan Mang Trimin tepat dihadapanku, tanganku membuka kait celana lusuhnya, setelah terlihat reseletingnya, dengan bitchy kugigit reseleting itu dan menariknya turun, kreeett !!

Jdugg…!! “Mmph…!!” kemaluan Mang Trimin yg sudah mengeras itu langsung keluar kandang ingin berkenalan dengan alam barunya dan menampar mukaku. Sontak aqu terkejut dan menjerit kecil namun teredam karena masih menggigit reseleting celananya yg membuat si Jessy dan Silvia tertawa, aqu langsung mencubit bokong kedua sahabatku itu karena malu, meraka cuma mengaduh. Aqu menarik muka kedua sahabatku melalui jambakan lembut pada rambut mereka, aqu menarik lebih turun celana Mang Trimin beserta celana dalemnya yg bermerk “Hings”, Silvia yg menggemari oral sex itu, mendahului kita dengan meraih kemaluan Mamang untuk mengocoknya, Jessy berinisiatif menggelitik buah kemaluan Mamang, aqu memuntir kepala kemaluannya sembari memijit-mijitnya dengan jari jempol dan telunjukku. Lengkaplah sudah, Mang Trimin bagaikan raja minyak yg sedang dilayani para selir-selirnya, Jessy kadang-kadang meminta bagian untuk mengocok-ngocok gagang Mamang dengan gencar, Mang Trimin blingsatan dengan kocokan Jessy yg tak kalah ahli pada Silvia, malah Jessy terkesan menunjukkan keahliannya.

Kita bertiga memulai dengan menjilatinya dari buah kemaluan, pangkal sampai kepala kemaluan, lidah kita bertiga menjilati masing-masing area, Mang Trimin yg mendongag keenakan sesekali melihat kebawah melihat kenakalan remaja SMP masa kini, dia memandangi muka kita satu persatu. Kita membalas tatapannya dengan mengerlingkan mata genit, dia cuma menelan ludah dan kita spontan tertawa kecil sembari terus menjilat, bahkan ditatap Mang Trimin, Jessy langsung menjilat lidah Silvia diseberangnya, bertukar ludah bahkan mencucup pangkal kemaluan Mamang kiri dan kanan berbarengan sembari melihat nakal ke arah Mang Trimin.

Sementara aqu tetep fokus mengemut dan menghisap kepala kemaluannya,

Sruuph…!! Hisapku kuat-kuat pada kepala kemaluan hitamnya yg lonjong,

“Oookhh…”desah Mang Trimin keras,

Kepalanya mendongag keatas, kemaluannya mengacung tinggi dan badannya bergetar nikmat.

Kita bertiga memundurkan kepala berbarengan, lalu meludahi kemaluannya, Cuuh…!!

Dengan horney kita bergantian mengocoknya, Mang Trimin menjulurkan lidah keenakan dan kemaluan itu kutangkap dengan mulutku, kini gagang itu kukuasai sendiri, aqu memaju mundurkan mulut sembari mengocok-ngocok memutar pada pangkal gagangnya seperti pemain blue film saja, lalu kemaluan yg masih dimulut itu kuoper ke mulut Silvia yg langsung disambutnya dengan mulut terbuka, lalu dia oper lagi ke aqu dan kuoper ke Jessy, terus begitu, dan terakhir karena mendengar desahan Mang Trimin yg sudah berat, tanda air maninya sudah antri di kepala kemaluannya, aqu kuasai sendirian, kedua sahabatku cuma menjulurkan lidah untuk membantunya membangkitkan gairah gairah Mamang dengan mendesah sexy bersamaan dan memusiki kocokan tanganku pada kemaluannya, aqu juga menjulurkan lidah di depan Mang Trimin siap dicumshot (semprot air mani) di mukaku bersama kedua sahabat cantik-ku. Mang Trimin ingin mengambil alih kemaluannya dengan mengocoknya sendiri, namun Jessy dan Silvia tampak tak mengizinkan, bagaimanapun ini hukuman berupa kenikmatan, si Jessy memegangi tangan kanan Mamang dengan tangan kirinya, dan Silvia sebaliknya. Beberapa detik kemudian, ketika tanganku sedang mengocok sembari menjilati kemaluannya tiba-tiba dia medesah panjang dengan muka mendongag ke atas, mulut hitam Mamang menceracau keenakan,

“Eeengghh..Nengh…bapakh..keluaaarhh..!!”

“Leeehh….”dengan Horney kita bertiga menjulurkan lidah sembari mendesah nikmat dan,

“CROOOTTT…!! JRUOOTT !! BLAARR !! CROTT !!” Cairan putih kental dan berbau khas memancar dengan derasnya membasahi muka kita dalem kocokanku, baju sekolah kita juga otomatis kecipratan.

Kita mendesah sexy dan mengerang mengiringi erangan nikmat Mamang di setiap semburan air maninya, seakan-akan kita juga merasakan kenikmatan yg dirasakan oleh Mamang ketika itu, kemaluannya kupompa dengan meremasnya kencang dalem genggamanku agar semua tabungan air maninya kosong, bahkan Jessy dan Silvia juga turut-turutan mengocok kemaluan Mamang. Jessy malah memencet gemas kepala kemaluan yg sedang sensitif-sensitifnya memuncrati air mani itu. Mang Trimin nampak mendesah-desah keenakan dan kelabakan. Setelah tak ada yg keluar lagi, kita saling menjilati air mani yg membanjiri muka, beradegan lesbian dengan beradu mulut panas, Mang Trimin yg masih kelelahan cuma melihat kita kembali bergairah, tangan kananku masih mengocok-ngocok kecil pada gagang kemaluannya yg semakin layu itu.

“Weleh weleh…ngentot ga ngajak-ngajak lo Min”kata lelaki berbadan gempal, yg tak lain adalah Pak Slamet.

“Wah…Non Jessy kemana aja…Bapak cariin dari tadi juga”kata lelaki berpakaian satpam, yg tak lain adalah Mukidi atau Pak Mukidi.

“Pintu gerbang udah lo kunci Ba..??”tanya Pak Slamet pada Pak Mukidi, agar situasi aman dalem sekolah.

“Udah ko…bisa party kita..wah nambah pasangan nih Met..!!”sahut Mukidi.

“Iya gaayah…kecuali kalo nambah Trimin doang…rugi atuh hehehe !!”kata Pak Slamet.

Mereka berdua menghampiri kita, Pak Slamet masih memegang sapu lidi di tangannya, dia sehabis menyapu di pekarangan depan karena kita ketika itu berada di belakang dekat kantin sekolah,

“Eh…elu pade…gue juga baru mulai nih…!!”sahut Mang Trimin.

Pak Mukidi dan Pak Slamet yg telah terbiasa melaqukan perihal ini pada kedua sahabatku itu, langsung menurunkan celananya untuk memulai sex party dengan oral,

“Ba…gue pinjem mulut lonte lu ya…?” kata Pak Slamet kurang ajar, mengacungkan kemaluan pada Jessy.

“Ooohh…sama-sama dah yak!!” sahut Mukidi yg juga mengacungkan kemaluan pada Silvia.

Kawan-kawanku yg cantik namun hypersex itu, sudah biasa di lecehkan seperti itu, dan langsung menyambut dengan oral sex pada lelaki buruk muka di depannya.

“Weleh…Neng Jessy lonte lu Ba…?? sialan lu ga pernah ngajak-ngajak pada..!!”protes si Trimin.

“Hehehe sorry Bos…masalah laen bagi-bagi…masalah duit sama kemaluan…nehi !!”jawab si gendut Slamet.

Sembari di oral oleh Jessy, Pak Slamet membuka kancing baju sekolahnya dari atas sampai bawah dan memelorotkannya lewat atas, sesampai badan Jessy yg sexy itu menjadi bahan bakar bagi gairah gairah Mang Trimin yg baru pertama kali mengalami sex secara beramai-ramai ini. Begitu juga Silvia yg sedang di oral dan kemudian ditelanjangi Pak Mukidi. Mang Trimin kemudian melihat ke arahku, saking gairahnya, dia melepas celana dan baju yg ia kenakan di depan kita semua, Pak Slamet dan Pak Mukidi cuma tertawa maklum. Mang Trimin menaruh pakaiannya sembarangan di tempat biasanya anak-anak sekolah menongkrong dan bergosip setelah makan di kantin. Sembari bugil dia langsung menyeretku ke arah sebuah kelas yg tak jauh dari situ dan tentunya sudah kosong, dia menuntunku dari belakang, sembari berjalan dia menyingkap rok-ku dari belakang dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tangan hitamnya itu langsung jahil menggeraygi paha belakang dan meremas bokongku, Cuuph…!!,  Sesekali tukang sampah sekolahku itu menciumnya, sampai membuatku terangsang juga dan bersedia untuk digarap sepuas-puasnya.

Sesampai di kelas, aqu menuju meja belajar terdekat dan menelungkup, menunggingkan bokongku tinggi-tinggi dengan sexy untuk memancing kembali gairahnya yg tadi sudah tersalur melalui ejaqulasinya yg pertama, Mang Trimin menyingkap naik rok-ku sampai keatas pinggang, dia melepitnya agar tak turun ketika aqu tersodok-sodok, dan langsung menarik lepas celana dalemku, tukang sampah sekolahku itu meremas dan mengecup gemas bokongku memberi peringatan berupa rangsangan.

Celana dalemku direngkuhnya, Mang Trimin mencium bagian dalem celana dalemku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yg sudah basah oleh lendir kemaluanku akibat horney. Aqu semakin terangsang dengan tingkah udiknya itu, aqu dan Mang Trimin sama-sama baru pertama kali mengalami sex liar ini,

“Wangi bingit Neng Miska…enyak !! baru lendirnya aja udah enak, apalagi kemaluannya” puji si gembel berumur itu. Dia memakai celana dalemku di kepalanya sebagai topi.

(Oh Yess…!!) kagumku padanya dalem hati,

Melihat ke belakang ke arah kemaluannya yg belum lama menyemprotkan air maninya itu dan sekarang kembali mengacung tegag siap menembak. Ketika itu aqu merasa sexy sekali, aqu menggerakkan kedua tanganku ke belakang, kedua jari tengahku yg lentik karena memakai kutek hitam, aqu posisikan di bibir kemaluanqu, membuka lebar-lebar dan sengaja memamerkan padanya lubang kemaluan yg merekah berwarna merah muda, Glekk…!!suara Mang Trimin menenggag ludah terdengar olehku dan semakin membuatku merasa sexy.

“Aaannghh…!!”desahku spontan, karena Mang Trimin tak tahan dan menusuk kemaluanqu dengan jari tengah kirinya sampai masuk semua.

Badanku menggelinjang disertai suara desahan ketika tangannya mengorek-ngorek lubang kemaluanqu, jariku yg tadi membuka kemaluanqu langsung berpindah meremas ke pinggiran meja belajar sekolah itu. Mang Trimin mendekatkan mukanya yg terlihat penuh gairah itu ke bokongku yg menungging, tangan kanan hitamnya mengelus dan meremas bokong sebelah kananku, dengus nafas beratnya terasa di area selangkanganku. Dengusannya pindah ke bongkahan bokong kiriku, Leeph…!!

“Aauuhh…!”desahku ketika di menjilati salah satu daerah sensitive perempuan itu.

Badanku terasa panas dingin dibuatnya, dengan jilatan di bokong dan korekan jarinya yg nakal itu di kemaluanqu, jari itu seakan-akan ingin mengetaui apa saja isi di dalemnya.

Disapukannya dengan telak lidah kasarnya pada kulit bokong putih sekalku itu, diciumi, bahkan digigit kecil sesampai aqu menjerit menerima rangsangan erotis Mang Trimin.

Dia ingin menarik lepas jarinya dari kemaluanqu, jari yg terdiri dari 3 (tiga) buku-buku itu mulai terlepas satu-persatu, Satu..Dua.., ketika menuju ketiga, kemaluanqu spontan tak rela dan menjepitnya,

“Whuuaa…!”reaksinya norak, merasa jarinya terjepit kencang kemaluanqu yg liat namun basah itu. Aqu tarik-tarikan dengannya, namun…Jleebbh…!!

“Aaannggh…!!”desahku, karena Mang Trimin mengerjaiku dengan mencoblos kemaluanqu dalem-dalem.

“Hak hak hak hak…”tawanya mesum karena berhasil mengerjaiku.

(Ehhm..Shiit !! si tua bangka ini pandai membangkitkan gairah…)keluhku dalem hati.

Dia mengulangi lagi dengan menarik kembali jari tengahnya, Satu..!! Dua..!! ketika menuju ketiga, kemaluanqu kembali spontan tak rela dan menjepitnya, Aqu yg kini tengah horney bersiap-siap untuk menerima tusukannya, namun…Plooph…!!

“Aauuhh…”desahku,

Sial, Mang Trimin menarik kasar jarinya tiba-tiba sesampai membuatku tak sanggup menahan derita gairah ini ditambah sedang horney-horneynya. Dia menghirup jarinya yg sudah berselimut lendir kemaluanqu.

“Hhmmh…wangi tenaaan..!!”katanya.

“Mmmhh…Enyaak..gurih rek kemaluan Neng Miska !!”komentarnya,

Sembari mengulum jari tengahnya yg belepotan lendirku, aqu balik melihatnya.

Ooh…ini sex liar pertamaqu, aqu baru pernah merasa sexy seperti ini, kedua sahabatku berhasil menggali bakat hypersex-ku, menanamnya bersama dalem diriku dan merubah kehidupan sex-ku seperti mereka. Bahkan Febry mantanku pun tak bisa membuatku melayang, bersamanya aqu memang merasa cantik karena mendapatkan salah satu bokink paling keren di sekolah, namun tak membuatku merasa sexy seperti perlaquan Mang Trimin padaqu. Mamang memposisikan kedua tangannya pada kedua sisi pinggangku, matanya melihat nanar pada kemaluanqu yg terpampang jelas, seolah-olah ingin menelannya, spontan kakiku merentang lebar siap menerima serangan mesumnya, nafas dan degup jantungku seirama semakin cepat, ketika aqu melihat muka Mang Trimin yg sama sekali tak handsome itu mendekati kemaluanqu, 30 cm..20 cm..10 cm..5 cm, Hap…Nyam !!

“Iyaaaahhh….”desahku, ketika dia melahap bibir kemaluanqu dengan ganas.

 

Clek..clek..clek..clek..!!

Lidah kasar Mamang keluar masuk kemaluanqu, aqu cuma bisa mendesah dan mendesah menerima serangan gairahnya. Lidahnya nakal sekali menyentil-nyentil itil-ku, mulutnya yg hitam itu mengemut kemaluanqu dengan penuh gairah hewani.

Tak lama kemudian kurasakan badanku terbakar, aqu tak bisa bertahan lebih lama lagi dan mengerang sejadi-jadinya menggeliat sembari memeluk meja erat-erat.

“Iyaaahh…!!”eranganku ketika mencapai klimaks.

Crreett…Cret…Seerr…Crrt !! Erangan panjangku itu menandakan klimaksku bersamaan dengan mengucurnya lendir cinta dari selangkanganku. Cairan yg meleleh dari kemaluanqu dilahapnya dengan raqus sampai terdengar suara menyeruputnya, aqu mengejat-ngejat di atas meja belajar itu.

“Neng Miska…jangan tidur dulu…kemaluan Mamang belum ngerasain kemaluan Neng Miska pan..!”katanya ditelingaqu.

Aqu merasakan kemaluannya di bibir kemaluanqu, Aaahh…badanku masih merasa lelah sekali sehabis klimaks barusan, dia baru ingin menyentakku lagi.

Zrreeekk…!!

“Aaaukkh…”erang kita ketika kemaluannya menyeruak masuk kemaluanqu.

Mang Trimin menekan masuk kemaluannya paksa sesampai aqu merasakan kemaluanqu seperti tersobek, badanku terbelah dua. Kepalaqu yg tadinya tergeletak menyamping, langsung spontan meringis ke depan, mulutku membentuk huruf U namun badanku masih tengkurap tiduran di atas meja. Mang Trimin langsung bergerak brutal menyebadaniku, tampaknya dia tak perduli dengan kelelahan badan yg kuderita, dia ingin menggapai klimaksnya.

“Eengghh…busyeet…seret tenan kemaluan Neng Miska…Hhuuunngghh…!!”kejannya.

“Iyyaaahh…!!”desahku, ketika Mang Trimin menghentak kasar masuk kemaluannya.

Sembari menyentak, dia menyibak seragam belakangku sampai punggung putihku terlihat olehnya dan langsung dijilatnya, Bra-ku tak dilepasnya agar aqu tak merasakan sakit pada payudara karena tidur bergesekan dengan meja. Jilatannya sampai kurasakan pada leher jenjangku sampai akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yg tebal dan kasar itu.

Huueeekk…!!bau nafasnya sungguh tak sedap, entah makan apa Mamang tadi pagi, namun lidahku tetep menuruti permainannya dengan liar sampai ludah kita bertukar dan menetes-netes sekitar bibir. Dia berpegangan pada sisi meja depan dekat mukaku, sementara aqu berpegangan di sisi belakang meja dimana bertepukan dengan paha hitam berbulunya yg penuh dengan peloe di sekujur permukaannya. Mang Trimin nampak mendekati ejaqulasinya, mulutnya menceracau sembari menyentakku kasar terpental-pental sampai meja belajar yg kutiduri bergeser searah dengan sentakannya, terlihat sekali Mang Trimin ini ingin membalaskan dendam gairahnya, karena tadi kakinya kubuat memar tertimpa tempat sampah, sentakan kemaluannya itu seolah-olah menginginkan kemaluanqu juga memar,

“Aaaannghh…Aaaannghh…Maanngh…Ampuunnhh…IyYaAaaAahHh…!!”

“Gila kemaluan lu…gilaa kemaluan luu…gilaa kemaluan luuh…HuUuunngghh !!”desahnya,

Tak lama kemudian kurasakan beberapa semburan cairan kental hangat yg membanjiri lubang kemaluanqu, yg dituruti oleh meledaknya cairan klimaksku, Mang Trimin menikmati sisa-sisa klimaks sembari memelukku, kita berkeloJesstan berdua bersama-sama dibarengi dengan kejangan-kejangan di kemaluan dan kemaluan masing-masing. Sisi meja pada bagian dekat kemaluanqu banjir sudah, lelehan lendir cinta klimaksku dan air mani Mang Trimin membanjirinya, setelahnya Mang Trimin duduk di bangku sebelah dekat mejaqu, tiba-tiba, Braaakk…!!, pintu terbuka,

“Aaahh…Aaahh…Yeesss…Fuck me…Deepeer…!!”desah Silvia,

Dia sedang digarap Pak Mukidi dengan gaya monyet memanjat pohon kelapa, tentu dengan postur satpamnya yg tegap kekar itu, bukan suatu perihal yg sulit untuk mengangkat atau menaik turunkan badan Silvia, walaupun badan Silvia tergolong tinggi karena blasteran. Karena ini perihal yg baru buatku melihat kegilaan kedua sahabatku ini, maka kupaksakan sedikit tenagaqu untuk menoleh melihat kegiatan seks mereka, Pak Mukidi dan Silvia melaqukan posisi seks itu sembari berjalan mendekati bangku guru.

Tak jauh dari pintu kTriminar erangan Jessy dan desahan nikmat Pak Slamet, kulempar padangan dan betul saja, Pak Slamet sedang asyik men-doggy Jessy, wanita cantik Indo-Euro se-profile dengan Nadine Chandrawinata itu dijambak rambutnya oleh tukang sapu dan kebun sekolah itu, tangan kiri Pak Slamet menampar-nampar bokongnya yg putih sekal, muka cantik Jessy merigis setiap kali tangan gempal Pak Slamet mendarat di bongkahan padat nan montok Jessy. Tangan kirinya sesekali juga membetot pundak Jessy kebelakang berlawanan dengan hentakan kemaluannya ke depan. Pak Slamet menyeringai mesum ketika mata kita bertemu pandang, dia seolah-olah bangga bisa menggarap sahabat cantikku itu di depanku, memang sahabatku Jessy itu salah satu wanita incaran para bokink, cuma patah hatinyalah yg membuatnya tak ingin memiliki pacar lagi sejak kelas 2. Pak Mukidi tiba-tiba medesah keras seperti kerbau, Silvia menjadi semakin menjerit-jerit karena kemaluannya ditumbuk paksa dalem-dalem agar menjepit dan memberikannya kenikmatan, tiba-tiba Pak Mukidi mendudukkan diri sesampai kemaluannya menghentak dalem-dalem kemaluan Silvia, Jleeegg…!!!

“Aaaakkhh….!!!”erangan nikmat mereka berdua,

CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

Pak Mukidi mencapai klimaksnya bersamaan dengan Silvia, cairan mereka meluber dari kemaluan Silvia, mereka mengejat-ngejat nikmat sembari berpelukan dan bertatap-tatapan, setelahnya Pak Mukidi mendudukkan Silvia pada meja guru, Silvia yg merasa kelelahan langsung menyenderkan diri di dinding, duduk mengangkang memperlihatkan kemaluannya yg memar kemerahan namun dipenuhi gumpalan cairan kental putih pekat yg masih meneretes keluar, Pak Mukidi yg masih mengenakan baju satpam tanpa celana sepotong pun juga, mengambil rokok dari kantung baju satpamnya, menyalakan dan menawarkan ke Silvia yg disambutnya, si cantik blasteran Kanada itu menaruh rokok di mulut tipis sexynya, dan Mukidi menyalakan api untuknya, mereka menghisap rokok dan ngobrol yg aqu tak dengar, Silvia mengerlingkan mata kirinya dengan genit ke arahku karena aqu melihat ke kemaluannya yg Mukidik belur karena ulah kemaluan Pak Mukidi.

 

Kita mempertemukan senyum karena keadaan kita sama-sama porak poranda akibat oknum petugas sekolah bejat, tak lama aqu mendengar Pak Slamet menggeram seperti seekor kerbau,

“Huuunngghh….!!” Tukang sapu berbadan gemuk itu mencapai ejaqulasi dengan menyentak kasar sahabatku Jessy yg cantik itu dari posisi menungging doggy style sampai jatuh tengkurap ditindih badan gendutnya itu, Jessy cuma menjerit-jerit pasrah dengan rambut merahnya yg dijambak Pak Slamet, bokongnya yg sekal itu melekat ketat dengan perut bagian bawah Pak Slamet yg dipenuhi bulu, buah kemaluannya bertemu sapa dengan bibir kemaluan, tukang sapu gemuk itu mengejat-ngejat keenakan, bisa dilihat dari mukanya, kaki Jessy sampai menekuk dan menendang-nendang punggung berlemak tukang sapu tua itu.

Dia terus menekan kemaluan itu di masa ejaqulasinya, Pak Slamet terus saja menggenJesstkan kemaluannya di lubang keperempuanan Jessy, dibenamkan kemaluan gemuknya itu dalem-dalem untuk menuntaskan ejaqulasinya, sembari memutar-mutar kepalanya seperti orang gila. Tukang sapu sekolah itu sampai bergidik nikmat menuntaskan ejaqulasinya meneteskan sisa-sisa air maninya di dalem kemaluan Jessy sebelum terkapar lemas dan menindih Jessy. Tak lama kemudian, Pak Slamet pun bangkit meninggalkan Jessy sahabat cantikku yg masih terkapar, kulihat kemaluannya masih lemas diselimuti lendir air mani menjijikkannya yg putih pekat dan kental,

“Woi Min…nyobain kemaluan Miska dong…!!”kata Pak Slamet asal pada Mang Trimin.

(Ooh Crap…bakal tuker pasangan sampe kelenger nih gue ‘n temen-temen Damn..!),

Keluhku dalem hati,

“Woi woi…ntar dulu Met..lo entotin perempuan lo dulu nih, Miska gue duluan si Trimin Jessy, baru elo Miska, gue Jessy, si Trimin Silvia..!!”protes Pak Mukidi mengatur.

“Oh iya ya…ok deh..!!”sahut Pak Slamet mudah, tak memikirkan kondisi badan kita.

“Siap Bos…asyiik !”kata Mang Trimin semangat sembari hormat, dia berlari menuju pintu luar ke arah Jessy yg terkapar, dan membangunkannya untuk dibuatnya lagi semaput.

Pak Slamet meninggalkanku mendekati Silvia dan Pak Mukidi,

“Sana Ba…garap Miska…gantian…gue udah kaga sabar pengen ngentotin dia !” kata si gendut Slamet.

“Set dah…gairah bener kagag sabar…!! Entot aja dulu nih perempuan loe…enak bingit lo Met kemaluannya..pantes lu doyan bener !!”sahut Pak Mukidi.

“Iya tuh Pak…si gembrot ini doyan bingit ngentotin gue ampe kelenger kaya Jessy tuh!” tunjuk Silvia pada Pak Mukidi keluar. Dimana Jessy masih terkapar dan sedang disadarkan Mang Trimin. Pak Mukidi cuma tertawa melihat ke arah luar.

“Ya iyalah…Neng Silvia ini kan udah cantik kemaluannya seret lagi !!”pujinya mesum.

Silvia cuma tersenyum sembari menghembuskan asap rokok ke arah Pak Slamet, dan Pak Slamet cuma menyeringai dan melirik ke selangkangan Silvia yg terbuka lebar.

“Waduuh…gila lu Ba…kemaluan Neng Silvia ampe Mukidik belur gini !!”protes Pak Slamet.

“Ehehehe…nyori…abis enak pisan sih…”sahut Pak Mukidi enteng.

“Weleeh…mana banyak pejunya lagi !!”gerutunya lagi.

“Ha ha ha ha…yahh..si Jessy sama Miska juga paling sama keadaannya..”kata Pak Mukidi membela diri.

“Ya udah…kita bersihin dulu aja ya biasa..!!”usul Pak Slamet.

“Ok deh…gue bangunin Miska dulu…!!”jawab Pak Mukidi.

Pak Mukidi membangunkan badanku yg masih terasa sedikit lemas, dia memapahku untuk menuju keluar kelas, yg entah untuk apa aqu tak tau menahu, dan kemudian di dudukannya aqu di lantai sebelah Jessy yg sudah pulih duduk. Kita melihat ke dalem kelas.

“Yuk Neng…sini !!”. Sreet…!! tarik Pak Slamet kasar pada pergelangan kaki Silvia yg mengangkang.

“Hmmph…savar Vak !!”kata Silvia tak jelas kata-katanya, karena di bibir tipis sexynya masih terdapat rokok A Mild  yg mengepul. Setelah sampai di sisi meja guru, tukang sapu sekolah itu juga memapah Silvia, tangan gempal si gendut itu memapah Silvia pada bagian paha dan melingkari punggung menangkup payudaranya. Mereka bertatap-tatapan seperti pasangan bulan madu saja, Silvia memberikan rokok yg ditangannya untuk dihisap Pak Slamet, setelah itu mereka berpagutan sampai keluar kelas.

“Yak okey…langsung nih ya !!”kata Pak Slamet.

“Ok Bos…!!”jawab Pak Mukidi. Aqu dan Mang Trimin belum mengerti benar maksudnya.

Pak Slamet menurunkan Silvia dan berlalu meninggalkan kita, tak lama dia mengambil ember berisi air, dan menaruhnya dekat selokan (saluran air dari genteng sekolah jikalau hujan), juga botol cairan yg kutau milik Silvia untuk pembersih kewanitaannya agar kemaluannya selalu bersih dan wangi.

“Ayo lonte-lonte…!!”kata Pak Slamet dan Pak Mukidi sembari menepuk tangan.

Seperti lonte saja, Jessy dan Silvia bangun dan menyeretku, aqu bingung apa maksud mereka, (Ooh Shiit !!), dalem hatiku. Silvia dan Jessy berjongkok seperti mau pipis di kamar mandi saja, mereka seperti mengambil jarak, mata jelita Jessy mengedipiku agar aqu juga berposisi sama dengan mereka. Untuk solidaritas aqupun menurutinya, lalu Pak

Slamet dan Pak Mukidi mengambil posisi berjongkok juga di depanku dan Silvia.

“Deng…itutuh…si Jessy..lu mau gag ??”ancam Pak Slamet raqus.

“Oyaya…hehehe maklum belum mTrimin (nyambung) aqu…”jawab Mamang.

Pak Slamet dan Pak Mukidi mengambil air bergantian, membasuh kemaluanqu dari panasnya gesekan kemaluan Mamang tadi, Pak Slamet juga membersihkan kemaluan Silvia dan kadang-kadang jari gemuknya ditusukkan ke dalem kemaluan Silvia sampai si manis itu mendesah sexy. Begitu juga Pak Mukidi melaqukannya padaqu, aqu dan Silvia yg berpegangan di bahu mereka, cuma bisa mendesah sembari mencakar atau menancapkan kuku-kuku jari kita yg lentik ke bahu mereka, jika tusukan jari mereka terlalu dalem.

Mang Trimin mengangguk-angguk tanda konek, dia juga mengambil gayung dan hendak disiramkan ke kemaluan Jessy yg memar dan belepotan air mani menjijikkan hasil karya Pak Slamet, namun Jessy mencegahnya, Mang Trimin bingung, dia melihat muka Jessy mengejan cantik dan, Cuuuuurr….!! Pissing, Jessy pipis di depan Mang Trimin, tukang sampah itu hampir semaput melihat wanita SMP, bermuka Indo, berambut sedikit pirang, cantik jelita, berkulit putih berbadan aduhai, pipis di depan matanya, Jelegeerr…!! Bagaikan disambar geledek, aqupun belum pernah lihat langsung, secara walaupun kita sesama perempuan, Mang Trimin melotot tajam penuh gairah, dia yg juga sudah bugil dan juga sudah mulai konak sedari tadi melihat para wanita-wanita cantik itu berjongkok, kemaluan itu semakin mengacung tinggi.

“Huak hak hak…ajiiib…baru pernah gue liat perempuank kencing…cantik pula orangnya !!” komentarnya senang mendapat pengalaman baru. Setelah usai dia membasuhnya dan membilasnya dengan sabun pembersih keperempuanan milik Silvia yg diambil Jessy.

Para lelaki berumur itu tampak senang sekali memandikan kemaluan kita, cukup lama juga mereka membersihkannya. Mang Trimin yg baru pertama kali paling tak tahan, dia terkadang mengangkat pinggang Jessy lalu melahap kemaluannya sampai air basuhan yg ada di kemaluannya kering kerontang, malah lendir kemaluan yg terproduksi. Selanjutnya dia menyeret Jessy ke dalem kelas untuk disebadaninya, menyeret Jessy pun masih dengan mukanya yg terbenam di selangkangan Jessy. Pak Slamet dan Pak Mukidi juga menyeret aqu dan Silvia untuk kembali disebadani, karena masih lemas kita bertiga diposisikan menungging oleh mereka, Jessy di meja pertama dekat pintu kelas, aqu ditempatku tadi deret kedua, dan si manis Silvia di deret ketiga di sebelah deretan meja guru.

Aqu dan kawan-kawanku cuma bisa mengerang-erang tak berdaya, para pejantan buruk rupa itu seperti berlomba-lomba layaknya pacuan kuda saja, kemaluanqu terasa dirobek oleh kemaluan Pak Mukidi, kemaluannya panjang sekali menyodok-nyodok kemaluanqu, sodokannya itu seperti ingin membelah badanku melalui media kemaluan, keadaanku ini kurasa sama dirasa oleh para sahabatku. Kita bertiga berteriak seperti orang gila, bahkan Jessy dan Silvia yg telah terbiasa dengan sex bebas seperti ini dengan mereka, tak mampu jua melayani para petugas sekolah rendahan yg haus seks itu, mereka menggebrak-gebrak meja kelas yg ditidurinya, sampai menimbulkan suara gaduh dan menggema, meramaikan suasana persengamaan kita.

Rasa frustasi karena Cinta dan jengahnya kehidupan di rumah, kita lampiaskan dengan kehancuran diri, kita tak berfikir lagi untuk masa depan, kemaluan yg seharusnya kita jaga untuk pasangan hidup terCinta kelak tak terpikirkan, semakin hancur badan yg kita rasakan semakin lega perasaan, hancur ya hancur, cuma kata-kata itu yg ada di benak kita, kita telah bulat, Ended to be a Broken Bitches.

“HuUuunngghh…HuUuunngghh…HuUuunngghh…HuUuunngGghh !!!”geram mereka, menyentak masuk kemaluan sekuat tenaga, aqu sudah tak kuat, kita saling menoleh melihat keadaan masing-masing sahabat, mata kita sudah sayu sexy, menuju klimaks seks, meja yg kita tiduri pun terdorong ke depan bersamaan sampai porak poranda sebagaimana kemaluan kita, tamparan demi tamparan keras kita terima di bokong, tak kuat lagi maka aqupun berteriak menuju klimaks, dituruti Silvia dan Jessy tak lama.

“Iyaaaahhh…Paaaakkhh….Aaaaaaaaaaakkhhhhh……!!!”erang kita lantang.

“Uwooooooooookkhhhh……!!!”Pak Slamet, Pak Mukidi dan Mang Trimin juga mengejang.

CROOOOTTTTS !!! CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !!

Dan mereka bertiga pun juga menyusul ejaqulasi hampir bersamaan, badan kita berenam mengejat-ngejat nikmat, kemaluan dan kemaluan kita mengejang-ngejang, cairan lengket dan kental itu bertemu, pertemuan antara lendir kemaluan dan air mani, kemaluanqu ngilu sekali ketika disembur air mani Pak Mukidi yg semprotannya kencang seperti semprotan pemadam kebakaran itu. Kemaluan itupun tak lama berhenti berkedut-kedut berhenti memancarkan air maninya, para petugas sekolah itu akhirnya menarik lepas kemaluannya dan duduk berselonJessran di lantai kelas, meninggalkan kita dalem keadaan porak poranda di selangkangan dengan posisi menungging, kemaluan memar lebam dan penuh air mani menjijikkan. Mereka bertiga betul-betul memperlaqukan kita seperti lontenya saja. Berbicara tak senonoh dengan kata-kata yg Jessrok tentang enaknya kemaluan kita dsb. Setelah cukup tenaga, mereka bangkit dan hendak bertukar pasangan.

“Naaahh…dari tadi Bapak mau nyobain kemaluan Neng Miska ini hak hak hak…”tawa Pak Slamet mesum. (Oooohh…crap !! ancur kemaluan gue hari ini !!), keluhku dalem hati.

Plaaaakk…!! Plaaaakk…!!, tangan gempalnya menampari bokong sekal putihku.

Pak Slamet memasukkan paksa kemaluannya yg gemuk itu ke lubang kemaluanqu, sekarang aqu merasakan sesak yg dialami oleh Jessy dan Silvia tadi. Si tua gembrot itu juga tampak sesak nafas kemaluannya terjepit kemaluanqu yg katanya legit. Dia menyodokku sembari meremas bokongku dengan gemas, yg sesekali ditamparnya kasar sampai menimbulkan bercak merah bergambar telapak tangan, sementara diriku masih berpegangan pada sisi meja, dimana mejaqu sudah mendorong habis meja di depannya sampai mentok ke dinding, jadi ketika disodok gahar Pak Slamet menimbulkan bunyi gaduh,

“Jduk…jduk..!!”.

Kita pun kembali bersenggama bersama-sama, lagi dan terus dan terus, menjadi objek pembuangan air mani, setelah keluar air mani, mereka mencabut kemaluan dan beristirahat, lalu bertukar pasangan lagi, aqu dan para sahabatku cuma pasrah menungging menjadi media pengosongan kantung air mani dan pelampiasan gairah hewani mereka.

Pokoknya hari itu sampai sore hari dimana mentari hendak menyembunyikan senyumnya, kita berenam  bercinta tanpa mengenal waktu dan rasa lelah, kemaluan kita bertiga digarap sampai terasa perih karena terus menerus dipaksa menjepit dan menggesek kemaluan mereka, punwalau pada akhirnya disembur cairan hangat dan kental sesampai membasuh lecetnya dinding kemaluan kita, keluar ruangan keadaan kita seperti sebuah benteng yg dirudal, berantakan dan awut-awutan, jalan kita bertiga menyeret karena perih di selangkangan, sedangkan para petugas bejat itu tertawa-tawa melihat keadaan kita, Jessy yg paling malang karena dengan keadaan itu dia harus mengantar kita pulang dengan mobilnya. Kejadian itu terus terjadi setiap hari, di samping kita juga menyukai perihal itu, jadi baik itu setiap pulang sekolah, hari libur tanggal merah maupun minggu, kita selalu sex party bertiga, berpindah-pindah lokasi jika kita ingin mengganti suasana, misal : Villa Silvia, sekitar puncak Bogor, Dago Bandung, penginapan mewah Jessy di Pulau Bidadari dsb.

Memory pertama itulah yg terngiang-ngiang di kepalaqu.

(Miss U Friend…Where are U…? Need U Now !!) keluhku dalem hati ke arah lautan.

Muka para sahabat-ku terbayg melayang di atas langit hitam bertabur bintang.