khayalan Rorikawa Nakagawa siswa Dot khusus Pelatihan-Gadis17
khayalan Rorikawa Nakagawa siswa Dot khusus Pelatihan-Gadis17

Rorikawa Nakagawa siswa Dot khusus Pelatihan-Gadis17.Menjelang akhir tahun 1999 resesi ekonomi masih parah. Situasi ini membuat banyak perusahaan mengurangi karyawannya. Tapi beruntung di perusahaan saya hal seperti itu tdk terjadi. Memang banyak bisnis yg ditunda atau dibatalkan, tetapi kualitas karyawan malah ditingkatkan.

Diantara program itu adalah pelatihan persiapan menghadapi Y2K tahun 2000 bagi seluruh karyawan. Karena banyak pesertanya, pelatihan dilakukan sampai 10 gelombang, dengan jumlah 40 peserta di setiap gelombang. Setiap pelatihan memakan waktu 4 hari, dan dilakukan 2 minggu sekali. Sebagai staf yg bekerja di bagian personalia, tugas saya adalah menghubungi tempat latihan.

Saat itu banyak tempat latihan yg menawarkan harga miring. Mungkin mereka banting harga karena krisis ekonomi menyebabkan tempat mereka jadi sering kosong. Kami memilih salah satu tempat pelatihan di puncak. Pelatihan pun berjalan lancar sampai gelombang ke 4. Di setiap akhir pelatihan, saya selalu pulang terakhir, bahkan menginap satu malam lagi, untuk mengurus adminsitrasi. Tiba di gelombang V terjadilah kisah ini.

Menjelang acara penutupan yg biasanya dilakukan jam 4 sore, seorang karyawati bagian humas, sebut saja namanya Nila dan saya biasa memanggilnya si Cantik, mendekati saya dan minta ijin untuk tinggal di kamarnya lebih lama karena suaminya akan menjemput sekitar jam 8 malam. Padahal acara biasanya berakhir pukul 5 sore.

Setelah saya diskusikan dengan manajemen yg mengelola tempat pelatihan, mereka mengijinkan, tapi hanya satu bungalow saja. Itu berarti Nila harus pindah ke bungalow yg biasa disediakan untuk panitia. Untungnya bungalow di tempat pelatihan itu bertingkat dua, sehingga Nila bisa menempati tingkat atas, sementara tempat panitia termasuk aku ada di lantai bawah. Tanpa menunggu acara penutupan, iapun memindahkan barangnya yg sudah dikemas dalam tas.

Acara penutupan berakhir dan Nila meminta kunci bungalow untuk menunggu suaminya disana. Karyawan lain peserta pelatihan pulang dengan mobil yg disediakan perusahaan. Sedangkan saya harus membereskan berbagai peralatan. Saya kembali ke bungalow setelah para driver berangkat ke Jakarta membawa peralatan. Driver yg biasa mengantar sayapun ikut, karena banyaknya peralatan yg harus dibawa hari itu, dan ia berjanji akan menjemput saya esok pagi. Itu artinya saya harus menginap lagi.

Dengan setumpuk dokumen saya kembali ke bungalow sekitar jam tujuh malam dan mendapati si Cantik tengah nonton TV di lantai bawah. Ia memakai jeans dan kaos yg dibalut dengan jaket. Rambutnya sebahu dan disisir rapi, seperti pragawati saja. Ia tersenyum melihat saya masuk sambil terus nonton TV.

Wajah bulatnya kian manis ketika tersenyum. Dia tanya kapan saya akan pulang ke Jakarta. Saya bilang mungkin besok, karena banyak yg harus saya urus. Dia mengajak saya pulang bersama suaminya yg sebentar lagi datang. Saya bilang terima kasih, tapi saya biasa mengerjakan tugas akhir sampai jam sebelas malam. Hubungan saya dengan si Cantik ini memang baik, bahkan boleh dikatakan akrab. Saya pun mengenal suaminya, yg bekerja di suatu perusahaan komputer milik asing, karena sering menjemputnya di kantor.

Jika suaminya tdk menjemput saya sering dititipkan untuk mengantarnya pulang naik bis, karena rumah kami satu arah. Si Cantik ini memiliki tubuh yg ramping, meskipun ia sudah punya satu anak. Keistimewaannya ada pada bibirnya yg ranum dan matanya yg cerah. Aku mengambil HP dan menelpon istriku, untuk memastikan semua baik-baik saja di rumah dan memberitahu bahwa aku akan pulang esok hari. Lalu aku mengambil handuk dan mandi.

Si Cantik menggodaku dengan mengatakan bahwa pantas bungalow ini harum, rupanya ada yg belum mandi. Aku bilang bungalow ini harum karena ada bidadari masuk dan nonton TV. Tiba-tiba HP Nila berdering.

“Ya, Mas ada dimana sekarang?”
“Lho katanya jam delapan”
“Saya di tempat panitia. Ada Mas Tomi.”
“Besok pagi, sekitar jam..”
Ia menoleh ke arahku.
“Mas Tomi besok pulangnya jam berapa?”
“Aku.. Biasanya jam 10. Kalau urusan udah beres”
“Jam sepuluh katanya. Memangnya kenapa?”
“Oke deh. Kutunggu yach? Nanti telepon lagi”
Ia menoleh kembali ke arahku.
“Mas Tomi, kata Mas Samsi dia mungkin terlambat, sekitar jam 10 dia baru sampai. Katanya banyak kerja yg harus ia selesaikan. Nggak apa-apa kan sampai jam 10?”
“Ah, nggak apa-apa. Mau nginep disini juga boleh” jawabku sambil senyum nakal.
“Wah, bisa berabe.” Katanya.
“Kenapa?” tanyaku selidik.

“Dua-duaan satu bungalow. Apa orang nggak curiga?” tanyanya balik sambil nyengir.
“Biar aja, yg penting kita nggak ngapa-ngapain..” jawabku sambil masuk ke kamar mandi.
Kamar mandi bungalow ini bagus, meskipun terbuat dari kayu. Aku merasakan dingin mulai menusuk. Angin terasa masuk dari celah kayu. Aku harus mandi, agar rasa dingin berkurang. Sambil bersiul aku mengguyur badanku dengan air dan menggosoknya dengan sabun.. Selesai mandi aku duduk di depan laptop yg ada di kamarku dan memasukkan data. Aku memakai training dan kaos dengan jaket tipis kesukaanku. Aku teringat sesuatu.

“Mbak sudah makan?” tanyaku agak keras, karena dari kamar.
“Gampanglah nanti saja.”
“Kita makan yuk. Daripada nanti pulang malam-malam cari makanan susah.”
“Dimana?”
“Di kantin.”

“Yuk deh.” Katanya sambil mematikan televisi.
Kamipun makan. Di luar grimis sehingga kami harus berlari-lari kecil agar tdk basah. Meskipun bungalow gratis, makan harus tetap bayar. Nila ingin membayar, tapi aku mendahuluinya. Pulang makan ia kembali nonton TV dan aku pun kembali bekerja. Jam setengah sepuluh HP Nila kembali berdering.

“Ya mas, sudah sampai dimana?”
“Lho, lalu kapan kesininya?”
“Ya nggak apa-apa sih, tapi apa benar nggak bisa ditinggal?”
“Ada.. Mas Tomi,” ia memanggilku.
“Ini Mas Samsi mau ngomong.”
“Hallo, Mas Samsi, apa kabar?”

“Baik. Gini Mas Tomi. Saya berencana menjemput Nila malam ini. Tapi dari sore saya nggak bisa keluar. Ada perusahan client kami yg servernya down. Kayaknya saya harus begadang untuk memperbaikinya. Tolong titip Nila dong supaya ia bisa nginap disitu.”
“Oh.. silakan. Nggak masalah koq. Dia bisa tidur di kamar atas.”

“Anda pulang besok jam berapa?”
“Sekitar jam sepuluh. Biasanya urusan administrasi selesai jam segituan”
“Kalau saya nggak bisa jemput, titip sekalian antar ya. Ada kendaraan?”
“Ada, kendaraan kantor.”
“Iya deh. Titip ya. Saya telepon lagi besok.”
“Ya.”
Tek. telepon ditutup. Saya mengembalikan HP sambil senyum.
“Apa saya bilang, harus nginep kan?”
“Emangnya kenapa?” Tanyanya membalas senyumku.
“Ah, agak apa-apa. Cuma ngeri aja.”
“Emangnya ada apa?”
“Sudah empat hari nggak ketemu istri nih.” Jawabku menggoda.
“Mas bisa aja, saya kira ada apa. Kalau itu sih saya juga sama. Kan sama-sama disini sejak hari Rabu. Apalagi kalau Mas Samsi nggak pulang besok.”
“Sering nggak pulang begitu?”
“Wah sering banget.”
“Kesepian dong.” Ia tersenyum.
“Makanya kalau lagi ada kesempatan dipuas-puasin.” Kami tertawa.
“Sampe berapa rit?” “Ya, sekuatnya. Kadang-kadang sampai empat.. udah ah, jadi ngelantur. Aku tidur ya?”
“Silakan.. Saya masih harus mengerjakan beberapa file. Kalau ingin minum turun aja. Di dapur ada aqua.”

“Makasih ya?!”
“Ngomong-ngomong..” Ia berhenti melangkah.
“Apa Mas?” Aku tersenyum
“Kuat amat sampe empat rit?!”

“Husy.. udah ah!” Ia pun naik ke kamar atas sambil tersenyum memandangku.
Aku mengerdipkan mata. Eh, dia membalasnya. Aku tdk tahu arti kedipan mata itu. Aku terus bekerja sampai selesai. Kulihat jam menunjukkan 23.30. Waktunya tidur, pikirku. Aku merebahkan badanku sambil menerawang, mengingat-ingat kejadian tadi. Si Cantik itu membalas kerdipan mataku, seolah-olah mengerti sesuatu. Jangan-jangan ia memang naksir aku. Kalau memang naksir, sama dong denganku. Aku sudah lama memperhatikannya di kantor. Tapi ia seolah tdk perduli.

Akupun harus menahan diri, karena aku sudah beristri. Tetapi rasa ketertarikan itu tdk bisa dibohongi. Karena itu aku seing mampir di mejanya untuk sekedar ngobrol atau minta makanan kecil. Ia cuek saja dan ngobrol sekenanya. Di luar angin bertiup kencang dan menimbulkan suara gesekan daun dan ranting pohon. Dari celah kaca jendela kudengar suara menderu. Suara hujan gerimis terdengar. Tiba-tiba kudengar pintu kamarku diketuk.

“Siapa?” tanyaku gugup.
“Saya, Nila.”
Aku membuka pintu. Ia berdiri dan nampak pucat. Rambutnya agak kusut.
“Saya takut. Suara angin kencang sekali di atas.”
“Jadi?” Tanyaku bodoh
“Aku mau tidur disini. Kan ada dua tempat tidur”
“Hah?!” Aku kaget bukan kepalang.
“Jangan!”

“Abis aku takut.” Ia masuk tanpa minta ijin.
Dan terus saja berbaring di tempat tidur sebelah meja kerjaku. Aku blingsatan jadinya. Dalam hati sebenarnya aku senang, tapi aku khawatir kalau-kalau Samsi datang tengah malam. Bisa gawat. Akhirnya kuputuskan untuk tidur di sofa, sedangkan ia tidur di kamarku. Ia setuju. Baru kira-kira sejam aku tertidur, ia membangunkanku.
“Sorry Mas, aku takut” katanya.

“Mas Tomi tidur di kamar saja sama aku. Nggak apa-apa koq.”
Akhirnya kuturuti juga permintaanya. Aku pindah kembali ke tempat tidurku. Kulihat jam menunjukkan hampir pukul satu. Aku tidur menghadap dinding kayu. Ia pun begitu. Tapi dengan ada wanita lain di kamarku aku malah tdk bisa tidur. Aku berusaha tapi sia-sia saja. Jantungku deg-degan. Antara senang dan takut. Aku merasa inilah kesempatan buatku. Tapi rasa takut membuatku tdk enak. Akhirnya aku pura-pura mendengkur. (Tidur miring koq mendengkur). Tdk lama kemudian terdengar suara kasurku tertindih tubuh lain. Lembut. Dan yg membuat aku kaget adalah ada tangan yg memelukku dari belakang. Ini pasti si Cantik. Jantungku berdegup kencang. Aku berusaha agar terlihat tertidur. Tapi sia-sia saja.

“Mas Tomi..” panggilnya berbisik.
“Belum tidur kan?”
“Hmm..” jawabku pendek.
Aku berbalik. Ia menggeser mundur.
“Kenapa sih?” Ia tdk menjawab, tapi memandangku sayu.
“Ayo tidur. Nanti kesiangan bangunnya.”

Ia menggeleng. Matanya terus menatapku. Aku pura-pura ingin berbalik, tapi tangannya menarik badanku agar tetap menatapnya. Kami saling bertatapan. Lama. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, sampai akhirnya bibirnya yg ranum itu mencium bibirku. Lembut. Aku tak kuasa lagi menolak. Tapi aku masih berpikir, apa aku harus melakukannya dengannya. Bagaimana kalau Samsi datang pagi buta dan mendapati istrinya tidur di kamarku? Bibirnya mencium bibirku lagi. Kali ini ia melingkarkan kaki kirinya di pinggulku. Ini cewek ngajak main, pikirku. Tapi aku masih pasif.
“Mas..” bisiknya.

Aku menatapnya, meminta kepastian. Ia mengangguk. Ketika ia menciumku ketiga kali, aku membalas. Masa bodoh dengan si Samsi, pikirku. Kalau ada kesempatan kenapa tdk dimanfaatkan? Kami berpagutan lama. Bibirnya seperti tdk puas-puasnya menyedot, menggigit-gigit bibirku. Lidahnya liar berkali-kali memasuki mulutku. Aku membalasnya dengan kegairahan yg sama. Terus tangannya berkeliaran kesana-sini sampai ke selangkanganku dan menangkap bendaku yg mulai mengeras. Ia kaget dan berhenti mengulum bibirku.

“Nggak pakai CD ya?” tanyanya kaget. Alisnya mengerut.
“Sengaja” jawabku seenaknya.
Ia kembali memagutku dengan ganas sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam trainingku, meremas batangku dengan gemas. Lalu mengelusnya lembut. Ia berhenti lagi.
“Punya Mas besar banget” bisiknya.
“Gede mana dengan punya Mas Samsi?”
“Gedean ini. Lagian lebih panjang.”

Kami tertawa dan meneruskan pagutan kami. Giliran aku yg bekerja sekarang. Aku selangkangannya dengan tangan kananku. Ternyata kancing dan resleting celana jeansnya telah terbuka. Aku terus saja menerobos kedalam celana dalamnya. Kurasakan bulu kemaluannya kriting dan lebat menyentuh lembut telapak tanganku. Jariku menyentuh klitorisnya, lalu menggosoknya berputar. Ia semakin bergairah. Ciuman kami semakin ganas.

Lalu kugunakan jariku untuk mengelus celah memeknya diantara bibir dua memeknya yg menyembul indah, sambil mencari lubangnya. Kata orang, bibir memek yg gembul ini menimbulkan rasa yg lebih nikmat terhadap zakar disetubuhi. Ketika jariku menemukan lubangnya, kurasakan sudah ada cairan yg membasahinya. Aku mencoba menusuknya dengan satu jari. Bibir Nila jadi terbuka merasakan kenikmatannya.

“Ahh..” katanya Lalu memagutku kembali.
Aku lalu memaju mundurkan jariku yg mulai basah oleh cairan memeknya. Tangannya jadi semakin keras mengurut kermaluanku. Tiba-tiba ia berhenti. Lalu berdiri dan membuka seluruh pakaiannya sampai celana dalamnya sehingga bugil. Akupun tak mau ketinggalan. Kubuka seluruh pakaianku, sehingga ketika celana dalam kuperosotkan, batang kemaluanku menyembul keras. Nila tertawa melihatnya.

“Hebat..” Katanya.
Ia lalu berbaring telentang dan mengajakku naik diatasnya. Aku menatapnya penuh nafsu. Jantungku terus berdegup kencang. Nafaskupun sudah memburu. Tubuhnya langsing, putih-mulus dan padat. Payudaranya mungil dan kencang. Mimpi apa aku semalam sehingga dapat rejeki nomplok begini. Tanpa nunggu waktu akupun naik ke atasnya. Ia membuka kakinya dan seketika terlihat memeknya yg berwarna kecoklatan ditengah bulu lebatnya, membuka untukku. Aku memeluknya erat dan bibirku kembali mengulum bibirnya. Ia menyambutnya dengan nafsu yg sama. Dengan satu tangan ia memegang batang zakarku yg sudah tegak dan membimbingnya ke arah memeknya. Tiba di mulut memeknya aku mendorongnya perlahan. Meskipun basah, batangku agak susah masuk, karena agak sempit.

“Ahh..” Desahnya.
“Teruss hh.. Punyamu besar.. owww.. enak”
Kulihat mata Nila setengah membuka. Nampaknya ia amat menikmati persetubuhan ini. Aku menekan lagi. Baru setengahnya aku cabut. Tapi tangannya yg satu menekan pantatku. Lalu kedu akakinya melingkari pinggangku. Lengkap sudah. Aku memasukkan zakarku kembali dan mendorongnya lebih kuat. Dua pertiga masuk. Kucabut. Lalu kumasukkan lagi dengan tekanan yg lebih kuat. Akhirnya batangku amblas ditelan memeknya. Tak terkatakan rasa nikmat yg kudapatkan. Aku menciumi wajah bibir dan dadanya. Kuhisap dengan ganas. Kadang-kadang kupelintir puting susu yg agak kehitaman itu dengan bibirku dan ia mengerang nikmat.
“Ahh.. aw.. Ohh.. ohh. Cabut dong.”

“Ahh..” Aku cuma mendesah nikmat.
Aku mulai menarik batangku. Ia mengerang. Lalu kutekan lagi. Akhirnya dengan lancar kukayuh batangku mengocok memeknya. Terdengar suara keplokan saat selangkangan kami beradu. Nila mengerang-ngerang tiada henti.

“Awww.. ahh ..owww.. eenakk.. aduhh.. teruss..shh..uhh.. uhh.. awww..”
Aku merasakan batangku diurut oleh memeknya yg sempit dan kencang itu. Geli dan enak. Tak terkira nikmatnya. Dan aku masih saja menggenjot ketika ia menurunkan kedua kakinya ke kasur. Dengan bertumpu pada pijakan kakinya ia menggoyg pinggulnya berputar-putar mengikuti ayunan batangku keluar masuk liang nikmatnya. Luar biasa. K0ntolku terasa dipelintir.

Si Cantik ini rupanya tahu cara menciptakan kenikmatan dan kepuasan bagi laki-laki. Sayang sekali Samsi terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tdk dapat memenikmatinya setiap saat. Kalau aku jadi dia, mendingan cari kerja lain yg bisa pulang sore dan menikmatinya. Sambil mernggoyg pinggulnya ia menarik tangan kananku untuk meremas dada kirinya. Sedangkan dada kanannya masih dalam mulutku. Kuhisap mesra dan kutarik-tarik dengan bibirku.

Tiba-tiba goygannya berubah semakin kencang. Tangannya pun pindah ke rambutku dan menarik-narik dengan liar. Mulutnya semakin keras mengerang. Nafasnya semakin memburu. Keringatnya semakin banyak. Rupanya ia hampir orgasme. Akupun ingin keluar. Aku tdk tahu kenapa secepat ini. Biasanya aku bisa bertahan lama. Mungkin karena udara dingin. Atau mungkin karena aku mendapatkan bidadari yg mau memuaskan nafsuku.

“Ahh.. teruss.. cepatt.. cepetiin.. awww.. ahh ..owww.. mass sstt.. aku..”
“Yahh.. ohh.. iyaahh.. ituu.. ahh.. keluarr.. aww!”

Serr.. serr.. Terasa batangku tersiram cairan hangat dalam memeknya. Ia menyemprotkan air maninya begitu kencang. Badannya mengejang dan memelukku sangat kencang. Aku menghentikan enjotanku sebentar dan membenamkan seluruh batangku dalam liang nikmatnya. Terjepit diantara bibir memeknya yg sempit dan ditambah gairah yg semakin membara, aku pun tdk tahan lagi.

“Huhh.. ahh.. ohh..”
Serr! Serr! Serr! Air maniku menyembur diujung lubang memeknya yg terdalam. Aku memeluknya sekuat tenagaku. Bibirku pun mengenyot bibirnya. Ia membalasnya. Kenikmatanku telah mencapai puncaknya. Keringat membasahi tubuh kami di tengah cuaca dingin tengah malam. Aku terhempas di atas tubuhnya. Lemas.

“Enak mass?” bisik Nila.
“Bukan enak tapi.. nikmat.” balasku sambil mencium telinganya.
Ia tertawa dan balas mencium pipiku. Kami terdiam agak lama, menikmati sisa persetubuhan kami. Batangku mulai mengerut tapi masih tertanam dalam memeknya.
“Boleh saya tanya sesuatu?” bisikku.
Ia mengangguk.
“Kenapa sih napsu banget, sampai orang tidur diganggu?”
“Kalau saya jawab, jangan marah ya.”
Ia mengelus dadaku yg berbulu.
“Emangnya kenapa?”
“Tadi waktu Mas lagi mandi, saya ngintip. Saya lihat punya Mas gede banget. Lebih gede dari punya suami saya. Saya jadi napsu.”
“Jadi, tadi itu takutnya cuma pura-pura?”
“Takutnya sih benarran. Cuma kalau sudah nafsu gitu dan ada kesempatan, kenapa nggak dimanfaatkan?”
“Nakal yach?!”
Aku mencubit hidungnya. Ia membalas dengan mencubit pinggangku.
“Aduh.. Enak” bisikku. Ia malah semakin keras mencubitku.
“Aduhh.. hh.. hh.. ooww” Aku mendesah menirukan suara orang bersetubuh.
Ia tertawa dan berhenti mencubitku. Kini giliran bibirnya yg menyumpalku agar tdk meneruskan desahan palsuku. Ia berhenti dan memandangku. Kami tertawa.
“Aku haus..” katanya.
“Ayo..”
Bisikku,
“aku juga kepingin minum.”

Dengan hanya memakai selimut kami ke dapur. Selesai minum kami tdk kembali ke kamar. Ia mengajak duduk di sofa, lalu sambil menyenderkan badannya ke badanku ia menyalakan televisi. Tapi tengah malam begini mana ada TV yg siaran? Akhirnya TV pun dimatikan. Ia menoleh padaku dan tersenyum. Aku mendaratkan ciuman lembut di bibirnya yg ranum. Ia membalasnya dengan ganas. Kamipun saling mengulum, menggesekkan bibir kami, saling menyedot lidah lawan.

Batangku yg tertutup selimut mulai bangun lagi. Aku tak kuasa menahan tanganku untuk memegang dadanya yg kecil tapi montok dan masih tertutup selimut itu. Kubuka selimutnya, sekejap kemudian kuremas dan kupilin putingnya berganti kiri kanan. Nila mulai mendesah dan tangannyapun mulai beraksi, meremas batang kemaluanku sudah mulai tegang dibalik selimut. Ia menyibakkan selimut yg kupakai dan dalam seketika ia sudah mencengkeram kemaluanku. Ia meremas dan mengurutnya dengan penuh nafsu. Ciumanku mulai turun ke dagunya, lalu lehernya dan kemudian dadanya. Aku berlutut dihadapannya dan secara otomatis ia membuka kedua kakinya. Sambil meremas dengan kedua tanganku, puting payudaranya kuhisap dengan mulutku, berganti kiri dan kanan.

Desahan Nila mulai keras dan ia kini membelai punggungku dengan tangannya. Terkadang ia membelai rambutku dan memegang kepalaku. Mulutku lalu turun keperutnya, bulu kemaluannya dan akhirnya berhenti tepat di depan kemaluannya. Kuperhatikan bentuk kemaluannya, indah sekali. Kelentitnya berwarna kecoklatan berada di ujung atas celah memek, dibawah rambut kemaluannya yg ikal dan lebat. Sedangkan disisi celah memek itu dua bukit daging menyembul seakan melindungi celah itu.

Perfect! pikirku. Bisa jadi kemaluanku tadi merasakan nikmat bukan kepalang karena rupanya kedua bukit ini ikut menjepitnya. Kuangkat kedua lututnya ke atas kedua punggungku. Kukecup memek itu dengan mesra lalu kujilat celah itu dari bawah ke atas. Terasa ada cairan membasahi bibir dan lidahku. Agak asin rasanya. Aku malah semakin bergelora menjilat, mengulum dan mengecup kemaluannya. Kadang-kadang kelentitnya kutarik-tarik dengan mulutku. Nila nampaknya tdk menduga hal ini kulakukan.

“Awww..” ia menjerit keenakan dan kepalanya terkulai di senderan sofa, menggeleng kiri dan kanan.
Tangannya menekan kepalaku. Aku menarik kedua bukit daging memeknya dengan jari tanganku dan terlihatlah lubang kecil disebelah bawahnya, sementara celahnya terbuka dan berisi daging kemerahan. Aku memasukkan lidahku kedalamnya dan kupelintir. Badan Nila bergetar hebat sambil merintih tertahan.

“Ahh.. terusshh.. awww.. Nikmaat.. aahh.. Ahh..”
Aku terus menjilati dan memutar-mutar lidahku pada lubang kemaluannya. Terkadang jarikupun ikut partisipasi, menusuk-nusuk lubang itu. Lama-kelamaan lidah dan mulutku terasa pegal. Kuangkat kepalaku dan bergerak keatas mencium bibir Nila. Ia menyambutnya dengan ganas. Cairan yg berasal dari memeknya kini membasahi juga bibir dan pipinya.

Aku berusaha membimbing kemaluanku dengan tangan kanan, tapi Nila menahan dadaku dengan tanggannya, pertanda ia belum mau memulai. Ia memintaku duduk bersender, kemudian ia berlutut dihadapanku. Lalu dengan cepat ia mencengkeram kemaluanku yg juga sudah basah oleh cairan, lalu dikocoknya. Ia mengulurkan lidahnya ke arah kepala batangku yg sudah mulai tegang lagi, dan menjilatinya. Lalu seluruh batangkupun dijilatinya turun naik.

Dimasukkan batangku kedalam mulutnya sedikit sehingga hanya kepalanya saja yg ada dalam mulutnya. Ia mengenyotnya seperti es krim dan memutar-mutar kepalanya. Aku terpana dalam kenikmatan. Tdk disangka cewek cantik dan sopan di kantor bisa fantastis dalam soal sex. Ia pasti pernah nonton film blue, karena adegan semacam itu hanya ada dalam film semacamnya. Aku semakin merasa keenakan ketika ia memasukkan seluruh batangku kedalam mulutnya dan menghisap-hisapnya. Kepalanya turun-naik mengikuti kulumannya. Ia mendesah-desah dan pantatnya ikut bergoyg. Rupanya ia juga memainkan kelentit dan memeknya dengan tangan kiri.

Merasa tdk tahan aku menarik tubuhnya ke atas dan merapatkan kedua pahaku agar ia duduk mengangkangiku. Kugeser dudukku agak kebawah sehingga kemaluanku yg sudah tegang tepat berada dibawahnya. Ia meletakkan kedua lututnya di sofa dan merendahkan posisinya. Dengan tangan kirinya ia membimbing kemaluanku masuk kedalam memeknya. Dengan memegang kedua pantatnya yg kencang itu aku menekan ke atas.

Batangku mulai masuk sedikit-demi sedikit. Lubang memek terasa sempit dan menjepit kemaluanku. Rasa nikmat luar biasa menyelimuti tubuhku. Kini batangku sudah tertelan semua dan terasa ujungnya menyentuh dasar memeknya. Nila menggoygkan pantatnya ke kiri dan kanan, semacam isyarat agar aku mulai mengayuhnya. Dengan kedua tanganku kuangkat pantatnya perlahan, lalu kuturunkan lagi.

Masih terasa sempit, tapi kali ini sudah licin oleh cairan yg keluar dari kedua alat kami. Tak lama kemudian batangku dengan lancar keluar masuk pintunya, diringi suara erangan Nila yg mulai keras. Deru nafasku pun mulai memacu. Betapa nikmat bersenggama di malam dingin seperti ini, dengan suara rintik hujang masih menemani enjotanku. Sambil mengayunkan pantatnya, aku mulai menyedot puting payudara Nila yg dari tadi menganggur. Kusedot dengan penuh nafsu. Terkadang Nila membantunya dengan meremas payudaranya sendiri dari arah tepi. Aku menghentikan ayunanku dan memintanya turun. Lalu kubalikkan badannya agar membelakangiku. Lalu dengan kakinya yg terbuka mengangkangiku kuturunkan tubuhnya.

Ia membantu menuntun kemaluanku dengan tangan kirinya ke arah lubangnya. Lalu “bless..” dengan mudah batangku masuk kedalam liang nikmatnya. Aku merasa geli campur nikmat. Batangku menggesek dinding memeknya sangat terasa. Mungkin karena posisi zakarku dan lubang memeknya yg berbalik bengkoknya. Ia menarik pantatnya ke atas perlahan, lalu menurunkannya dengan cepat. “Bless..” Begitu seterusnya. Karena semakin cepat, terdengar suara kecipak dengan keras tanda selangkangan kami beradu. Mulut Nila pun tak henti-hentinya merintih.
“Ahh.. terusshh.. ahh.. yaach.. begitu.. hh .. awww..”

Dengan tangan kanan aku meraih ke depan selangkangannya dan menggelitiki kelentitnya yg turun naik bersama tubuhnya. Sedangkan tangan kiriku meremas payudara kirinya.
“Yachh.. begituu.. aww .. aku hh.. nggak.. tahan.. nnhh.. ohh.. enaak.. maas.. ”

Aku terus mengayuhnya tanpa menghiraukan rintihannya. Keringat telah mengucur dari tubuh kami membasahi sofa.
Padahal cuaca masih dingin dengan rintik hujan seakan mengiringi kenikmatan kami berdua.
“Mas? hh..”
“Yahh..”
“Aku hh.. pegal.. ohh”
Serentak aku stop ayunanku dan memintanya berdiri. Akupun berdiri dan memintanya menghadap sofa. Lalu kurtekan punggungnya agar ia berpegangan pada sandaran sofa. Dengan meletakkan lututnya di sofa, ia menungging di hadapanku. Aku berlutut di di belakangnya, memandangi memeknya. Aduhai, indah nian pantat perempuan ini, putih, mulus dan kencang dengan lipatan memek yg montok tepat di depan mukaku. Aku mencium memek itu dan menjilatinya sepuasku. Terkadang kelentitnya kukulum mesra.

Puas menjilatinya aku berdiri lagi. Dengan perlahan kutuntun batangku menuju sarungnya. Sambil memegang pinggangnya, aku menekan kedepan dan dengan sekejap batangkupun sudah tenggelam. Kukayuh dengan santai dan berirama. Nila mengikutinya dangan memaju-mundurkan pantatnya. Terkadang ia memutarnya. Terasa sekali kulit zakarku menggesek dinding memek bawahnya sehingga rasa geli dan nikmat semakin meningkat. Terdengar suara “plok.. plok..” akibat pantatnya memukul perutku.

“Ahh .. ooh.. sshh .. uuhh.. awww.. nikmaat..hh .. ” “terus..mass..”
Sambil merintih begitu Nila meraih tanganku dan mengantarnya ke dadanya. Secara otomatis aku meremasnya, memutarnya dan memelintir putingnya. Badan Nila berguncang hebat, tanda ia menikmati sekali persetubuhan ini. Aku menghentikan sebentar ayunanku dan berdiri tegak tanpa melepaskan kemaluanku dari lubang enaknya. Lalu kurapatkan kedua pahanya dan kini aku yg mengangkang. Dengan posisi seperti ini liang memek Nila jadi semakin sempit. Aku semakin bernafsu menggenjotnya. Terasa zakarku dipilin-pilin semakin nikmat. Nampaknya Nila juga begitu. Tapi posisi seperti itu tdk lama kami lakukan karena Nila keburu merasa pegal.

Akhirnya kami merubah posisi lagi. Ia duduk bersenderkan senderan sofa menghadapku dengan kaki yg dibuka lebar. Terlihat memeknya yg sudah kecoklatan, kencang dan tegang dengan cairan yg membasahi sofa. Aku berlutut dihadapannya dan dengan satu tangan aku menuntun jagoanku ke arah lawannya.

“Bless..” ia masuk lagi dengan gagah. Nila merintih panjang.
“Ahh.. ah..ah..ah!”
Secara refleks ia melingkarkan kedua kakinya ke pinggangku. Lalu ia mengangkat kakinya keatas dibantu kedua tangannya yg memegang kedua bawah lututnya, sehingga pahanya menyentuh perutnya. Terasa memeknya membuka lebar. Batang zakarku semakin lancar saja keluar masuk lubang nikmatnya. Dengan posisi ini zakarku keluar masuk dengan lancar. Tetapi karena posisi berlututku lebih tinggi dari pantatnya, bagian atas batangku jadi menggesek kencang dinding luar atas memeknya, bahkan sering menggesek klitorisnya. Nila jadi semakin blingsatan keenakan. Ia mengerang hebat. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan.

“Ahh.. aw! Aw! Aw! terusshh.. Iyaa.. Ituu.. teruuss.. oh! Oh! Oh! aahh..!”
Dengan menumpukan pada kedua tanganku ke sofa, aku berusaha menangkap bibirnya dengan bibirku. Ia menerkamnya dan memelukku. Bibirku digigit-gigitnya ganas. Lidahnya dengan liar memasuki mulutku. Terkadang ia mengenyot bibirku dengan rakus.
“Mass.. aduhh.. enakh..”

“Cepetinn.. dongh.. aku mau.. keluarrhh aw! Aw! Aw! Ohh.. Ah! ah! ”
“Aku juga.. ahh.. ahh!” sahutku sambil mempercepat goyganku.
Ia pun semakin bergairah memutar pantatnya. Jari tangannya menjenggut-jenggut rambutku hingga kusut.
“Ahh.. ahh.. aahh.. aahh..”
“Hiyah.. hiyah.. yahh.. aahh”
Serr.. serr.. ser! Ser! Dengan sepenuh tenaga kuhunjamkan zakarku. Sekali. Dua kali. Bersamaan dengan itu Nila memelukku dengan erat. Badannya mengejang. Bibirnya merenggut ganas bibirku dan menyedotnya denan rakus.
“Mmmff.. mmff.. ahhmm..”
Hanya itu yg keluar dari mulut kami. Aku tumbang di atas badan empuk Nila. Ia memelukku erat. Zakarku banyak sekali menyemprotkan air mani. Begitu banyaknya, aku tdk bisa membedakan lagi mana yg berasal dari dalam memek Nila. Semua bercampur dalam puncak kenikmatan orgasme kami. Keringat, air mani, ludah dan cairan lainnya. Sulit untuk melukiskan kenikmatan yg kami alami, di malam buta, demgam rintik hujan masih turun dan cuaca puncak yg dingin, seakan ingin menambahkan kenikmatan bagi kami berdua..
“Mas?!”
“Hmm..”
“Mas..?!”
“Ya sayang..?!”
Aku menatapnya. Ia tersenyum, tapi ada linangan air mata di pipinya. Aku mengusapnya. Aku baru mau mengucapkan sesuatu, tapi ia menutup bibirku dengan jari tangan kanannya. Lalu bibirnya mengecup bibirku, lembut.
“Aku bahagia..”
“Tidur yuk? Udah jam dua”
“Gendong aku dong..”
“Aku coba ya?”
Setelah membersihkan masing-masing kemaluan kami, dengan telanjang bulat aku mencoba menggendongnya ke kamar, dalam keadaan bugil pula. Badannya langsing sehingga tdk terlalu berat untuk kuangkat. Ia ketawa cekikikan ketika kucium dadanya. Ia menggeleng manja ketika ia akan kuletakkan di tempat tidur sebelahku. Akhirnya badannya yg montok itu kutaruh perlahan di tempat tidurku. Tangannya masih menggayut leherku ketika aku hendak mengambil selimut, seakan tdk ingin kehilanganku sesaatpun. Akhirnya kami tidur di dipanku, meskipun agak sempit. Dengan kaki kanan yg menaiki perutku, ia tidur disisi kananku dengan kepala terkulai didadaku. Aku membelai rambutnya dan pikiranku menerawang, menikmati sisa-sisa persenggamaan tadi..

Aku terbangun pukul tujuh. Aku menengok kiri kanan. Nila tdk ada di tempat tidurku. Aku buru-buru keluar kamar mencarinya, dengan hanya bersarungkan selimut. Ternyata ia sedang di dapur menyiapkan sarapan. Ia memakai daster tipis warna biru muda Aku berjalan menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Ia terkejut perlahan.

“Sudah bangun?”
“Koq nggak ngebangunin?” Aku balik bertanya.
“Ngebangunin yg mana?”
“Eee.. dua-duanya”
“Nakal yach..”
Aku menciumi pipinya berkali-kali. Kedua tanganku menyelinap dibawah ketiaknya dan terus meraba ke arah selangkangannya. Ia diam saja, tak bereaksi. Kuraba-raba, ternyata ia tdk menggunakan apa-apa dibalik daster tipisnya
“Belum puas?” tanyanya.
“Kalau diberi lagi sih.., nggak nolak”
“Doyan ya..?”
“Kan katanya sampai empat rit..”
Ia mencubit tanganku keras dan lama.
“Nakal nih..” katanya.

Aku tengah menikmati badannya yg kupeluk dari belakang, ketika tiba-tiba dari atas terdengar suara handphonenya berdering. Ia bergegas melepaskan roti yg tengah dibubuhi selai dan naik tangga ke kamarnya. Aku jadi deg-degan nggak karuan. Padahal cuma dering handphone.

Aku khawatir Samsi sudah menelpon dari tadi, tapi tdk dijawab karena istrinya tengah terlena dalam pelukanku. Tak lama kemudian Nila turun kembali dengan senyumnya yg manis. Wajahnya tetap cantik meskipun baru bangun tidur.

“Mau dijemput?” tanyaku gugup.
Ia melingkarkan tangannya dileherku dan memelukku erat. Bibirnya menciumku. Hangat.
“Emangnya kenapa?” Tanyanya manja.
“Kita harus siap-siap, supaya kelihatan nggak ada apa-apa”
“Kalau kita begini, emangnya dia perduli?”
Astaga, si Cantik ini sudah berani memberontak rupanya. Aku tdk mau jadi runyam nantinya.
“Nil.. jangan dong, nanti berabe..” Ia mengecupku lagi.
“Nggak usah khawatir. Aku juga nggak sembarangan. Kan boleh selingkuh, yg penting keluarga utuh.. mm.. Mas Samsi bilang mau jemput jam sepuluh. Tapi.. siapa yg percaya sama omongannya? Keseringan ngibulnya..” Bibirnya mencibir manja.
Giliranku menciumnya. Mesra. Ia menatapku. Matanya yg bulat segar dengan bulu mata yg lentik kelihatan begitu sayu. Kasihan si Cantik ini. Nampaknya ia harus melewati malam-malam yg panjang dan sepi, karena suaminya akhir-akhir ini jarang pulang. Aku menciumnya lagi, kali ini lebih menekan. Ia membalas. Jadilah pagi ini kami saling melumat dan memagut. Tanganku mulai merayap di belakang badannya terus turun ke pantatnya lalu meremasnya.
“Mau sarapan roti atau yg lain?” tanyanya berbisik.
“Kamu suka yg mana?” Aku balik bertanya.

“Yg lain dulu ya?” Tanpa menunggu jawaban tangannya segera melepaskan selimut yg terlilit di badanku, sehingga dengan sekejap aku berbugil ria.

Ia cekikikan melihat kemaluanku yg mulai tegang. Dicekalnya dengan dua tangan dan diurutnya sambil digesekkan ke selangkangannya yg tertutup daster. Sementara bibirnya dengan ganas menciumi bibirku. Lidahnya mulai liar lagi menjelajahi bagian dalam mulutku. Aku tak mau ketinggalan. Daster tipisnya kutarik ke atas dan segera kuremas kedua daging pantatnya yg tak tertutup celana dalam. Ia segera melepaskan tangannya dari kemaluanku dan menarik dasternya ke atas serta melepaskannya sehingga kami telanjang bulat di pagi yg dingin ini.

Aku segera memeluknya, meneruskan ciuman yg tertunda dan melanjutkan belaian kami. Ia menggesekkan payudaranya yg kecil, putih dan montok itu ke dadaku yg berbulu. Aku membalasnya dengan menggesekkan kemalunaku yg sudah berdiri tegak ke selangkangannya yg berbulu hitam lebat, sambil meremas gemas kedua daging pantatnya. Ia bergelinjang hebat. Nila melepaskan ciumannya. Kemudian menyuruhku duduk di bangku makan yg tersedia. Ia lalu berlutut di hadapanku. Tanpa malu ia mencengkeram batang zakarku, menjilati kepalanya dan memasukkan kemulutnya. Sekejap kemudian ia sudah asyik menghisap dan mengulum batang nikmatku itu dengan lancar, tanpa rasa jijik sedikitpun. Aku terpana dengan kepiawaiannya membangkitkan gairahku.

Aku hanya bisa merintih dan bergumam merasakan kenikmatan dan kehangatan mulutnya menghisap dan memelintir batang dagingku. Terdengar kecipak ketika ia menarik batangku dengan mulutnya. Lalu ia masukkan kembali dengan semangat. Terkadang bagian bawah kemaluanku disusur dengan lidahnya, kemudian ujung lidahnya berputar di atas kepala batangku. Geli dan nikmat rasanya. Nila kemudian berdiri dan berbalik membelakangiku. Lalu dengan mengangkangi lutuku ia menurunkan pantatnya. Aku ikut memegang pinggangnya. Dengan satu tangannya ia memegang batangku yg sudah menegang dan mengarahkan ke kemaluannya. Sementara tanganya yg lain menarik kulit di atas kemaluannya yg berbulu lebat itu.

“Kamu nggak mau di hisap dulu?” Tanyaku berbisik.
“Nggak usah.. hh udah basah nih..” jawabnya penuh nafsu.
Perlahan batang kemaluanku memasuki lubang memeknya. Benar saja, lubangnya telah basah oleh cairannya sendiri, sehingga meskipun agak lambat, batangku masuk dengan lancar. Betapa nikmat kurasakan. Batangku terasa diurut dan dihisap kemaluannya. Dengan berpegang ke meja di hadapannya ia mengangkat badannya. Perlahan batang kemaluanku keluar dari lubang vaginya. Kembali batangku terasa ditarik lembut oleh kemaluannya. Tak lama kemudian ia pun turun naik dengan lancar di atas batang kemaluanku yg tegak bagai tiang bendera. Begitu bersemangatnya Nila, sampai meja makan di depan kami ikut bergeser dan berbunyi di atas lantai kayu yg licin dan dingin.
Mulutnya mengerang tak henti-hentinya, menandakan ia terbawa dalam kenikmatan hebat. Ketika tengah mengayuh hebat, Nila berhenti sejenak. Lalu berdiri dan berbalik menghadapku. Dengan mengangkangkan kakinya ia kembali menurunkan badannya. Dengan satu tangan diantara tubuh kami, dituntunnya galah dagingku ke arah kemaluannya. “Bless..” Zakarku kembali masuk dengan ganas. Mulut Nila mulai mencari mulutku. Aku tdk tinggal diam. Segera kusambut mulutnya yg tetap ranum walaupun tdk memakai lipstik itu, dengan ciuman yg panas dan bergelora.

Kami saling menjilat, mengulum dan tekadang menggigit. Erangan Nila makin hebat. Goygan pantatnyapun makin hebat. Nampaknya ia mau orgasme. Betul saja. Ia memagut bibirku dengan kasar dan kedua tangannya memeluk badanku erat-erat. Seiring enjotannya berhenti, badannya mengejang. Serr.. srr.. crot! crot! Air maninya mnyembur batangku yg tengah tenggelam di lubang nikmatnya.

Ia mengangkat pantatnya sekali dan menurunkannya. Nampaknya untuk memaksimalkan kenikmatan yg ia dapatkan. Badannya kini berkeringat, padahal cuaca di masih dingin, maklum di puncak. Kemudian ia terkulai menyender di badanku, padahal batangku masih tegak dan keras tertanam di lubang kewanitaannya. Biasanya bila aku bersetubuh pagi hari, aku memang agak susah untuk orgasme dengan cepat. Nila memandangku manja. Ia mencium pipiku.

“Belum keluar?”
“Belum”
Ia lalu mengangkat pantatnya sehingga batangku keluar dari lubangnya. Tegak dan penuh cairan nikmat yg diberikan memek Nila. Dengan satu tangan Nila mengambil cairan dari batangku dan mengoleskannya di sekitar liang duburnya. Lalu ia mengangkat pantatnya kembali dan menurunkannya di atas batang zakarku. Kali ini ia menuntun batangku ke arah duburnya.
“Nil..”

“Ssstt..” Ia meletakkan telunjuknya di bibirku sebagai tanda bagiku untuk tdk bicara.
“Just do it..” katanya, “it is special for you..”

Ia pun menurunkan kembali pantatnya. Ketika kepala batangku menyentuh lubang duburnya, aku merasa betapa kecil lubang itu. Tapi Nila seakan tdk perduli. Ia terus menekan pantatnya ke arah batang dagingku. Matanya terpejanm sambil merasakan apa yg terjadi di bagian duburnya. Ketika ujung batangku mulai menyeruak lubang pantatnya, ia menyeringai. Tapi ia terus menkan pantatnya, sehingga kepala batangku masuk. Aku merasakan nikmat luar biasa. Batangku serasa terjepit hebat oleh lubang daging yg sempit.

Ia mengangkat pantatnya. Lalu diturunkannya lagi kali ini setengah batangku masuk. Ditariknya lagi. Lalu ditekannya lagi sehingga batang kemaluanku amblas tertelan lubang duburnya itu. Tak terkatakan rasa nikmat yg kudapatkan dengan batang dagingku yg dipilin-pilin oleh lubang sempit ini. Apalagi ia kemudian dengan lancar turun naik dan menggoyg pantatnya kiri-kanan. Cewek ini begitu hebat dalam bercinta. Dan betapa beruntungnya aku karena ia memberikan sesuatu yg khusus buatku, yg ia tdk berikan pada suaminya.

“Ahh.. teruss.. ahh.. uh! Uh! ..aww”
“Ohh.. awh! awh!nikh.. matthh.. ohh..”
Dijepit oleh lubang yg swmpit seperti itu, batang kemaluanku jadi tak tahan. Aku ikut memegang pinggangnya dan menaik-turunkan pantatnya agar gesekkan terhadap batangku semakin cepat. Akhirnya kuangkat pantatnya dan kukeluarkan batangku. Kini giliranku mencapai puncak kenikmatan Ahh.. Cret! Cret! Creett! Serr.. Serr.. Air maniku muncrat dengan kencang ke atas meja dan lantai di bawahnya. Aku memeluk tubuh telanjangnya dengan erat. Keringat membasahi tubuhku dan Nila mengusapnya dengan manja. “Enak?!” tanyanya.
“Luar biasa.. koq pinter sih..?!”
“Kursus dong..”
“Dimana..?! Emangnya ada kursus begituan..?!”
“Ada.. film tripel?!”
“Suka nonton yach..!? Pantes..” Kami terdiam sejenak.
“Pinter goyg begini koq sering dianggurin, kan sayang..”
“Makanya kalau Mas mau kita bisa janjian..”
“Astaga. Aku nggak berani ah..”
“Kan bisa diatur.. Aku juga nggak sembarangan..”
Aku diam. Aku berpikir, kesempatan seperti ini memang langka dan tdk mungkin terulang. Selain jauh dari Jakarta, kebetulan semua orang lagi nggak ada. Nah kalau di Jakarta? Kalau semua orang di kantor tahu bagaimana?
“Kita lihat saja nanti deh.. Kan kamu yg punya kesempatan”
“benarr yaa. Nanti kalau lagi kosong aku telepon.”
Kami kemudian sarapan. Aku minum STMJ yg memang dibawakan oleh teman-teman panitia dalam bentuk sachet ketika berangkat. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan. Tiba-tiba telepon di samping TV berdering. Aku menjawabnya.
“Hallo..”
“Halo, dengan Pak Tomi..?”
“Ya, saya sendiri..”
“Kami petugas front office. Ada beberapa dokumen yg harus ditandatangani bapak sebelum bapak pulang.”
“O ya, nanti saya ke sana sekitar jam sembilan.”
“Baik, terima kasih pak.”
Aku akan bergerak mandi, tetapi Nila minta duluan. Akhirnya, sambil berselimut aku nonton TV. Terdengar suara Nila memanggilku dari dalam kamar mandi.
“Ada apa?” tanyaku dari depan pintu kamar mandi.
“Tolong ambilkan lulurku dong, di atas” katanya.
“Di tas?”
“Ya, di kantong luar”
Aku segera berlari ke kamar atas dan turun lagi dengan membawa lulur mandinya.
“Nih” kataku tanpa membuka pintu kamar mandi.
“Masuk aja Mas, nggak dikunci koq.”
Aku masuk dan mendapatinya sedang telanjang bulat. Ia memandangku sambil tersenyum. Aku jadi membuang muka.
“Lulurkan ke badanku dong.”
“Hah?! Nggak ah..”
“Ayo dong mas, kapan lagi..” Ia memelas.
Akhirnya akupun menuruti kemauannya. Ia memang benar, kapan lagi aku bisa bersamanya dalam suasana seperti ini. Tdk ada jarak, tdk ada penghalang, walau sehelai benangpun. Akupun mengoleskan lulur itu mulai dari punggungnya, pinggangnya, dan pantatnya. Sementara ia berdiri tegak membelakangiku.
“Depannya juga dong..” katanya sambil memutar badannya.
Aku mengoleskan lulur mulai dari lehernya, lalu dadanya-sambil meremas dan membelanya tentunya-, terus ke perutnya dan selangkangannya. Ia membawa tanganku ke kemaluannya. Aku tdk menolak, membelainya dengan jariku. Tangan kanannya mengikuti tanganku sedangkan matanya memandangku, sayu. Ia mendekatkan bibirnya, lalu mencium bibirku lembut. Batang kemaluanku mulai bergerak naik.
“Mas..”
“Hmm..”
“Kakinya juga dong”
“Oh ya, sorry..” Aku lalu mengolesi kedua pahanya, lututnya dan telapak kakinya.
“Gantian, sini aku lulurkan..” Katanya setelah aku selesai.
Akupun membuka selimut yg melilit badanku, lalu berdiri membelakanginya. Ia mengoleskan lulur ke seluruh tubuhkku, sama yg kulakukan terhadapnya. Bedanya, ketika ia mengoleskan lulur ke bagian depan tubuhku, ia tinggalkan batang kemaluanku. Baru setelah selesai semua, ia menjilati batang kemaluanku dan menghisapnya. Batang kemaluanku yg setengah tegang itu kini malah jadi keras lagi karena kulumannya. Setelah puas mengulum dan menjilati batang kemaluanku, ia mengolesinya dengan lulur dan mengocok dengan tangannya. Ia pun berdiri dan memandangku.
“Sekali lagi ya..? Terakhir..” Aku tak menjawab, tetapi melingkarkan kedua tanganku kepinggangnya yg penuh lulur itu.

Dalam sekejap kamipun berciuman dengan ganas. Ia meletakkan kedua tangannya memeluk leherku. Akupun memeluknya semakin ketat. Ia menggesekkan dadanya ke dadaku, aku menggesekkan kemaluanku yg berdiri tegak itu ke bawah perutnya. Kamar mandi yg dingin ini berubah menjadi hangat karena nafsu birahi kami. Ia mendudukkanku pada toilet duduk. Lalu berjongkok dihadapanku dan mulai mengocok batang zakarku dengan cairan yg keluar dari. Lalu ia mendekatkan dadanya ke batangku. Sambil memegang kedua payudaranya dari tepi ia meletakkan batangku di tengah kedua payudaranya dan memaju-mundurkan dadanya. Terasa geli campur nikmat memancar dari kemaluanku yg terjepit di antara dadanya itu.

Cairan makin banyak keluar dari kepalanya. Nila terus memainkan kemaluanku dengan kedua payudaranya yg putih dan montok itu. Aku menyender pada toilet duduk itu sambil menikmati fantasi sex yg ia ciptakan. Cewek ini bermain seakan tdk pernah puas. Nampaknya ia ingin menikmati sepuas-puasnya kesempatan yg didapatkannya. Mungkin suaminya sering keletihan pulang kerja sehingga tdk sempat melayaninya di atas ranjang. Aku tersadar ketika ia menghentikan permainan dadanya terhadap batangku. Lalu ia berdiri membelakangiku dan kembali menurunkan pantatnya.
“Ini posisi favoritku..” katanya tanpa menunggu komentarku.

Segera ia menangkap batang zakarku yg sudah tegak itu dan membimbingnya memasuki memeknya. “Bless..” Dengan lancar kini batang itu menerobos sarungnya.
“Ahh.. nikmaat..” katanya sambil menyenderkan badannya ke arahku.
Aku memeluknya sambil meremas kedua payudaranya dan mulutku mencari bibirnya. Ia menyambutnya dengan mesra. Lalu dengan semangat membara ia mulai mengayuh pantatnya, ke atas dan ke bawah, ke kiri dan kanan. Aku menimpalinya dengan menggenjot batangku ke atas keras-keras sehingga timbul suara keplokan yg menambah indah suasana pagi ini.

Perjuangan mencari puncak kenikmatan kini dimulai lagi. Tdk puas dengan posisi mendudukiku dari belakang, ia berbalik menghadapiku dan mengangkangiku. Lalu sambil duduk ia menggenjot kemaluannya. Aku pun tak berkeberatan dan ikut memainkan batangku sambil meremas-remas pantatnya dan menjilati payudaranya. Nila lalu berdiri. Sambil menyender ke dinding kamar mandi yg dingin ia minta agar aku menyetubuhinya sambil berdiri. Aku menikmatinya bahkan mengangkat kedua kakinya ke pinggangku. Nila tanpaknya merasa senang sekali aku mengikuti semua gaya yg dimintanya tanpa komentar. Akhirnya ia minta disetubuhi dengan gaya biasa, tidur telentang dengan kedua kakinya diangkat ke pundakku. Pada posisi inilah ia mengalami orgasme.

Sedangkan aku terus menggenjotnya, sehingga ketika melakukan doggy style aku baru bisa mencapai nikmatku yg kedua di pagi ini. Dan kali ini ia tdk membiarkan kemaluanku muntah dalam memeknya, tapi dalam mulutnya. Ia tdk merasa jijik sedikitpun. Bahkan sebagian air maniku ditelan begitu saja bagai menelan air minum!

Selesai merapikan semuanya, aku menuju front office untuk menyelesaikan seluruh administrasi. Tdk lama kemudian driver kantor datang menjemput. Seolah tdk terjadi apa-apa, kamipun pulang ke Jakarta. Dan sepanjang jalan kami tertidur kelelahan..

Nila menepati janjinya ketika di puncak. Sejak saat itu kami sering membuat janji jika suaminya sedang sibuk dan tdk bisa pulang. Kami bertemu di sebuah hotel dan mengulangi kepuasan yg kami dapatkan ketika di puncak. Aku tdk tahu sampai kapan hubungan ini akan berlanjut.

Nonton Juga : Promosi Guru perempuan Muda Bimbingan-Yui Hatano-Gadis17