Tembok Tinggi Rei Watanabe Akane Mochizuki Keren-Gadis17
Tembok Tinggi Rei Watanabe Akane Mochizuki Keren-Gadis17
                  Tembok Tinggi Rei Watanabe Akane Mochizuki Keren-Gadis17

Tembok Tinggi Rei Watanabe Akane Mochizuki Keren-Gadis17.Saya memiliki minat seksual khusus terhadap wanita yang lebih tua. Bahkan minat khusus tersebut telah ada sejak saya remaja. Saat remaja,saya ingat bahwa ketika saya bermasturbasi, saya lebih suka membayangkan tante-tante tetangga rumah, teman-teman ibu saya, ibu guru, maupun wanita-wanita lain yang masih terbilang ada hubungankeluarga.

Boleh dikata, saya sangat jarang menjadikan cewek-cewek sebaya saya sebagai obyek fantasi ketika bermasturbasi. Minat tersebut rupanya terus bertahan sampai saat ini, walaupunsaya sudah berkeluarga. Salah satu wanita yang saya minati dan seringmenjadi obyek fantasi seksual saya sampai saat ini adalah ibu mertuasaya sendiri yang bernama Nani. Saat ini beliau berusia 57 tahun.

Ibu mertua saya ini sudah menjanda sejak lama, karena bapak mertuasaya meninggal karena kecelakaan waktu itu. Rasa tertarik terhadap ibu mertua saya ini sudah timbul pada saat saya pertama kali diperkenalkan oleh pacar (isteri) saya.

Sejak saat itu, saya sering menjadikan beliau menjadi obyekfantasi saat saya bermasturbasi. Begitu besarnya rasa tertarik sayapada beliau, sehingga pernah terlintas pikiran untuk kawin denganbeliau entah bagaimana caranya. Tetapi pikiran tersebut tidak saya kembangkan lebih lanjut karena saat itu beliau sudah menopause,sedangkan saya masih memiliki keinginan untuk memiliki anak.

Lagipula,pasti akan banyak masalah dan hambatan untuk mewujudkan pikirantersebut. Karena itulah akhirnya, saya tetap melanjutkan hubungan sayadengan Linda, sehingga akhirnya kami menikah. Saat baru menikah, kami tinggal bersama ibu mertua saya ini.

Karena 3 orang kakak isteri saya yang telah menikah telah memiliki rumah sendiri-sendiri, sedangkan 2 orang adik isteri saya sedang kuliah diBandung dan Yogyakarta. Kami tinggal di rumah ibu mertua saya tersebut,selain untuk menemani beliau, juga karena kondisi keuangan kami saatitu belum memadai untuk memiliki rumah sendiri.

Selama kurang lebih satu tahun tiga bulan tinggal bersama mertuainilah, ada sejumlah pengalaman baru, yang makin menunjang saya untukmenjadikan beliau menjadi obyek fantasi favorit saya. Pengalaman baruyang maksud misalnya adalah saya sering mendapat kesempatan melihatpaha mertua saya, entah ketika nonton TV, atau sedang bersih-bersihrumah, dan sebagainya.

Cukup sering juga saya memergoki beliau keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan handuk di tubuhnya. Bahkan pernah sekali waktu saya beruntung dapat melihat payudara ibu mertua saya tersebut dalam keadaan telanjang ketika ia membuka lilitan handuknya hendak berganti baju. Sayangnya beliau masih memakai celana dalam. Pernah juga saya melihat puting payudaranya menyembul keluar daster secara tidak sengaja ketika beliau nonton TV sambil tidur-tiduran di sofa.

Pengalaman-pengalaman baru seperti itulah yang semakin memperkuat minat seksualku pada beliau. Terkecuali, pada saat-saat kesadaran moraldan religius saya sedang baik, saya sering memiliki keinginan untukdapat menyetubuhi ibu mertua saya tersebut. Namun, saya tidak tahucaranya. Yang dapat saya lakukan saat itu hanyalah berfantasi saja.

Bahkan cukup sering, ketika saya bersetubuh dengan isteri saya, yangada dalam kepala saya adalah bersetubuh dengan ibu mertua sayatersebut. Selain berfantasi, paling jauh saya hanya memiliki kesempatanuntuk cium pipi dan memeluk ibu mertua saya tersebut pada tigakesempatan. Yaitu pada saat hari ulang tahun beliau, ulang tahun sayadan ulang tahun perkawinan saya dengan Linda.

Pada kesempatan di hari ulang tahun saya, ketika menerima cium danpeluk dari ibu mertua, untuk pertama kalinya saya merasakan himpitanpayudara beliau di dada saya. Pengalaman ini sangat berkesan pada dirisaya. Saya ingat bahwa pada malam itu, saya sangat bernafsu danmenggebu-gebu memesrai isteri saya. Saat itu, saya sanggup sampai empatkali mengalami ejakulasi ketika kami bersetubuh. Padahal, biasanyapaling banyak saya hanya tahan dua kali saja. Yang pasti, ketikamemesrai isteri saya, yang terbayang saat itu adalah ibunya.

Pengalaman lebih jauh yang saya alami dengan ibu mertua sayatersebut terjadi ketika saya dan isteri saya menemani beliau keSemarang untuk menghadiri pernikahan salah satu keluarga dekat darialmarhum bapak mertua saya. Ketika itu kami menginap di rumah keluargacalon pengantin. Karena terbatasnya tempat, kami hanya mendapat satukamar dengan satu tempat tidur ukuran besar. Terpaksa, malam itu kamitidur bertiga di tempat tidur itu.

Posisinya adalah, saya di sisi kiri, isteri saya di tengah dan ibu mertua saya di sisi kanan. Lampu kamardimatikan ketika kami berangkat tidur. Ketika terbangun pagi harinya,saya kemudian sadar bahwa isteri saya sudah tidak ada di tempatnya.Sambil berbaring saya berusaha mencari isteri saya di kamar, tetapisaya tidak dapat menemukannya. Secara samar-samar saya hanya melihattubuh ibu mertua tidur memunggungi saya.

Saya langsung menduga bahwaisteri saya pasti ke kamar mandi sebagaimana kebiasaannya. Isteri sayaterbiasa secara teratur bangun jam 04.30 dan kemudian ke kamar mandiuntuk buang air besar dan mandi. Saat itu timbul pikiran kotor dannakal dalam otak saya. Apalagi pada pagi hari biasanya si “AdikKecilku” berdiri tegak dan kencang. Pikiran saya saat itu tidak jauhdari situ.

Dengan bergaya masih dalam keadaan tidur, saya bergeser mendekat kearah tubuh mertua saya. Setelah cukup dekat (bahkan hampir rapat tapibelum bersentuhan), dengan gaya tidak sengaja saya menggeser tangankiri saya ke atas pinggul mertua saya.

Tidak ada reaksi apa-apa darimertua saya. Dengan lembut dan perlahan kemudian saya mulaimenggerakkan telapak tangan saya di pinggul mertua saya. Juga tidak adareaksi atau perubahan apa-apa. Saya kemudian memberanikan diri untukmengelus-elus pantat mertua saya.

Empuk dan halus rasanya. Saya jugadapat merasakan tekstur dari bagian pinggir celana dalamnya. Yangterpikir dalam otak saya saat itu, akhirnya ada juga yang jadikenyataan khayalanku. Sementara itu, si “Adik kecilku” semakin tegakdan keras saja, dan kemudian secara refleks tangan kanan saya mulaimeraba-raba si “Adik Kecilku”.

Ingin rasanya saya mengarahkan tangankiri saya ke arah kemaluan ibu mertua saya. Namun, saat itu saya takutibu mertua jadi terbangun. Karena itu, dengan susah payah saya berusahamenahan keinginan tersebut.

Kemudian, masih dalam gaya pura-pura masih tidur saya merapat dan memeluk ibu mertua dari belakang. Posisi ibu mertua saya kemudian agakberubah dari memunggungi saya menjadi lebih telentang, walaupunwajahnya masih ke arah yang berlawanan dengan posisi di mana sayaberada. Ibu mertua saya saat itu terlihat masih dalam keadaan tiduryang cukup nyenyak. Boleh jadi karena perjalanan dengan kereta apisore-malam itu cukup melelahkannya.

Kemudian saya menggeser tangan kiri saya ke arah payudara kiri ibumertua saya. Merasa tidak ada reaksi apa-apa kemudian saya memberanikandiri untuk menggerak-gerakkan tangan kiri saya. Dengan berhati-hatisekali saya mengusap-usap payudara beliau.

Saya kemudian sadar bahwa beliau tidak memakai BH ketika saya merasakan bahwa puting payudarabeliau semakin menonjol dan sangat terasa di telapak tangan saya. Lebih jauh lagi, kemudian secara lembut saya sesekali meremaspayudara beliau secara perlahan sekali. Nafsu saya meninggi,dan rasanya debaran jantung saya saat itu sangat cepat dan agak keras.

Saya terkejut dan takut sekali ketika tiba-tiba tubuh beliau bergerakdan menjadi lebih menghadap tubuhku. Mati aku, pikirku saat itu. Tapikemudian saya sadar bahwa beliau masih tetap tidur, karena nafasnyamasih teratur. Hanya ketika membalikkan badannya saja tampaknya beliauagak menghela nafas.

Dengan posisi yang berhadapan, saya dapat melihat dengan cukupjelas, walaupun agak samar-samar juga karena gelap, mulut ibu mertua saya agak sedikit terbuka. Melihat pemandangan yang demikian, apalagi memang bibirnya itu sering saya khayalkan untuk saya kecup, kemudian dengan tekanan ringan saya menempelkan bibir saya ke bibir beliau.

Tapi kemudian saya tidak tahan lagi, dan secara refleks kemudian bibir saya mulai mengulum bibir beliau, seraya tubuh saya bergerak menindihtubuhnya dan menekan kemaluan saya ke pahanya. Kejadian yang terjadi dalam waktu yang singkat tersebut akhirnya menyebabkan ibu mertua saya terbangun.

Dimulai dengan suatu lenguhan pendek, “Nngghh..”, kemudian beliau terjaga dan kemudian mengatakan, “Heh! apa-apaan ini?”. Sayakaget setengah mati waktu itu, dan kemudian menggeser tubuh saya kesamping tubuh ibu mertua saya. Ibu mertua saya kemudian mengangkat punggungnya dan duduk di tempat tidur. Setelah beberapa saat kemudian dia berkata.

“Apa yang kamu lakukan pada Ibu Bang? Koq kamu sudah mulai berani kurang ajar?”.

Setelah terdiam beberapa saat, kemudian sayapun bangkit duduk dan mengatakan.

“Maaf Bu, saya kira tadi ibu itu Linda”.
“Lho, Lindanya mana?”, tanya ibu mertuaku.

“Tidak tahu Bu”, jawabku. Kemudian ibu mertua saya turun daritempat tidur dan menyalakan lampu kamar. Saya hanya dapat duduk diamsambil menutup kedua muka saya dengan tangan saya. Ibu mertua sayakemudian berkata.

“Jangan sampai terjadi lagi ya Bang kejadian seperti tadi. Ibu tidak suka. Itu tidak baik dan dosa”.

“Maaf Bu, saya sungguh-sungguh minta maaf, karena saya tadi tidak sadar. Habis, biasanya kalau pagi kami biasanya melakukan hubungan suami-isteri sih Bu”, jawabku dengan refleks sambil bangun dari tempat tidur untuk sungkem kepada ibu mertua saya itu.

“Mau ngapain kamu?”, sergah ibu mertuaku.
“Mau sungkem Bu”, jawabku.

“Tidak perlu, yang penting jangan sampai terjadi lagi”, kata ibu mertuaku sambil membalikkan tubuh dan berjalan menuju pintu. Akhirnya aku duduk terpekur sendiri di tempat tidur.

Sambil membaringkan kembali tubuhku, terbayang lagikejadian-kejadian yang baru terjadi itu. Seingat saya, ada tiga halyang paling berkesan untuk saya saat itu. Pertama, makin menonjolnyaputing payudara ibu mertuaku ketika tanganku mengusap-usapnya. Kedua,persentuhan lidah kami ketika aku mengulum bibirnya yang menyebabkanbeliau terbangun. Ketiga, lirikan sepintas ibu mertuaku ke arahselangkanganku ketika beliau berbalik hendak keluar kamar.

Yang pasti,semua yang baru saja terjadi saat itu merupakan perwujudan darisebagian khayalanku terhadap ibu mertuaku. Selain itu, dorongan nafsuyang belum tersalurkan saat itu rasanya agak menyiksa diriku. Tidak berapa lama kemudian isteriku masuk ke kamar. Terlihat rambutnya agak basah, tampaknya ia baru keramas.

“Ibu mana?”, tanya isteriku.

“Keluar” jawabku secara singkat seraya bangkit dari tempat tidur menujuke arah pintu. Kemudian aku mengunci pintu dan berjalan ke arahisteriku yang sedang berdiri di depan meja rias.

“Mau ngapain sih Mas pakai dikunci segala”, tanya isteriku.
“Biasa, kayak kamu nggak tahu saja. Aku sedikit horny nih”, jawabku sambil memeluk dia dari belakang.

“Jangan ah Mas.., nggak enak, ini kan di rumah orang”, katanya.

Tapi aku terus aja meraba-raba dan menciumi tengkuk dan lehernya dari belakang.

“Aku nggak tahan nih.., lagian kan masih pada tidur”, kataku.

Akhirnya isteriku mulai menyambut serangan-seranganku. Dia tahupersis bahwa aku bisa marah dan uring-uringan seharian kalau lagi inginbanget tapi dia tidak mau.

“Tapi yang cepetan saja ya Mas..”, katanya. Mendengar jawabannya,saya menjadi semakin aktif. Saya menekan tubuhnya sehingga iamembungkuk dan meletakkan tangannya di atas kursi meja rias yang ada dikamar itu. Kemudian saya singkapkan dasternya ke pinggang dan sayatarik celana dalamnya sampai lepas.

Batang kemaluan saya yang memangsudah mulai basah sejak kejadian dengan ibu mertua saya tadikugesek-gesekkan ke selangkangannya. Setelah cukup licin, akhirnyadalam posisi dia berdiri membungkuk dan saya di belakangnya, kumasukkanbatang kemaluanku ke lubang kemaluannya, seperti biasanya.

Dengan nafsu yang sudah tertahan-tahan sejak tadi, saya tidak dapat bertahan lama, dan kemudian akhirnya ejakulasi sambil membayangkan bahwa yang saya setubuhi itu adalah ibu mertua saya. Ah seandainya saja benar-benar beliau..

Nonton Juga : Red Hot Fetish Collection Vol.60: Juni Mise-Gadis17